Harga Emas Antam Naik Rp 20.000 Per Gram pada 29 Mei 2026

Harga Emas Antam Naik Rp 20.000 Per Gram pada 29 Mei 2026

Pergerakan harga emas dan perak global terpantau masih mengalami keterbatasan. Situasi ini dipicu oleh sikap menunggu dari para pelaku pasar terkait kepastian kebijakan moneter di Amerika Serikat serta dinamika geopolitik dunia.

Dikutip dari Investasi, harga emas spot menguat sebesar 0,64% secara harian ke angka US$ 4.524 per ons troi pada pukul 16.29 WIB. Meski demikian, komoditas ini mencatatkan koreksi sebesar 2,13% dalam rentang waktu sebulan terakhir.

Pada periode yang sama, harga perak mengalami kenaikan harian sebesar 0,09% menjadi US$ 75,65 per ons troi. Dalam waktu satu bulan, nilai perak telah menguat sebesar 2,39%.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai performa kedua komoditas logam mulia tersebut memperlihatkan bahwa pasar sedang berada dalam masa konsolidasi.

Dolar AS yang cenderung melemah menjadi pendorong bagi pergerakan emas, walaupun indeks dolar AS (DXY) terpantau masih sanggup bertahan di atas posisi 100. Di samping itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah ikut menopang permintaan terhadap aset lindung nilai.

"Pernyataan Presiden Donald Trump terkait blokade Selat Hormuz membuat kekhawatiran pasar tetap tinggi dan kondisi seperti itu biasanya langsung meningkatkan minat investor ke aset safe haven seperti emas,” ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Saat ini, pelaku pasar menaruh perhatian pada peluncuran data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode April. Data tersebut menjadi instrumen penting bagi bank sentral AS dalam mengukur laju inflasi.

Para pemodal memerlukan kepastian mengenai arah inflasi inti, apakah sudah mendekati target 2% atau masih bertengger di posisi tinggi. Kondisi inflasi ini akan memengaruhi ruang bagi penurunan suku bunga acuan ke depan.

Yusuf melihat penguatan harga emas dan perak masih tertahan karena adanya pergeseran prediksi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Pelaku pasar masih mengamati dampak dari pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru pada Sabtu (23/5).

Warsh dipandang memiliki perspektif hawkish dan belum memperlihatkan indikasi kuat mengenai pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini memicu pasar bersiap menghadapi skenario tingkat suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Pandangan hawkish tersebut dipertegas oleh pernyataan pejabat The Fed, Christopher Waller yang mulai mengurangi sinyal pelonggaran moneter. Selain itu, kondisi ketenagakerjaan di Amerika Serikat juga terpantau masih kokoh.

"Jadi wajar kalau harga emas dan perak akhirnya hanya naik tipis karena pasar saat ini memang cenderung konsolidasi sambil menunggu arah kebijakan moneter yang lebih jelas," kata Yusuf.

Yusuf menguraikan bahwa komoditas perak memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi terhadap perkembangan industri global serta kebijakan suku bunga tinggi jika dibandingkan dengan emas.

Semenjak konflik di Timur Tengah eskalatif, nilai perak telah terkoreksi berkisar 17% akibat kekhawatiran pelambatan ekonomi makro. Emas lebih dominan diposisikan sebagai instrumen pelindung nilai, sedangkan permintaan perak bertumpu pada laju sektor industri.

Untuk sektor investasi ritel, Yusuf mengingatkan para investor agar bisa membedakan tujuan kepemilikan emas untuk aktivitas perdagangan jangka pendek atau sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang. Selisih harga jual dan beli kembali pada emas batangan dinilai masih lebar.

Berdasarkan data dari situs logam mulia, harga emas batangan bersertifikat ANTAM mengalami kenaikan sebesar Rp 20.000 menjadi Rp 2.774.000 per gram. Harga buyback atau beli kembali juga merangkak naik Rp 22.000 ke angka Rp 2.579.000 per gram.

Jarak antara harga jual dengan harga beli kembali saat ini berada di kisaran Rp 195.000 per gram atau sekitar 7,03%.

"Jadi investor yang membeli emas pada akhir April 2026 lalu menjualnya hari ini kemungkinan masih mengalami kerugian meskipun harga emas dunia sebenarnya sudah naik," kata Yusuf.

Akan tetapi, kepemilikan emas dinilai tetap memberikan prospek menjanjikan untuk jangka panjang. Yusuf mencontohkan pembelian emas pada Mei 2025 di harga kisaran Rp 1,9 juta per gram telah menghasilkan keuntungan sekitar 35% jika dihitung dari nilai buyback saat ini.

Yusuf memberikan rekomendasi agar investor menerapkan metode dollar cost averaging (DCA) dengan membeli emas secara berkala demi menjaga nilai rata-rata pembelian tetap stabil.

Langkah DCA meminimalkan ketergantungan investor terhadap momentum naik turunnya pasar. Sebaliknya, penggunaan emas batangan untuk perdagangan jangka pendek kurang direkomendasikan karena besarnya spread yang menjadi beban awal.

Di sisi lain, instrumen emas digital semakin diminati oleh kalangan muda karena menawarkan fleksibilitas serta efisiensi yang lebih tinggi. Selisih harga pada emas digital umumnya berkisar antara 2% sampai 3% dengan sistem transaksi berbasis aplikasi.

"Dengan dana Rp 10.000 pun investor sudah bisa mulai membeli emas. Itu sebabnya emas digital cukup menarik untuk milenial dan Gen Z,” ujar Yusuf.

Meskipun demikian, Yusuf memberikan catatan agar investor selalu memeriksa aspek legalitas dari platform penyedia emas digital. Pastikan perusahaan tersebut telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan didukung kustodian resmi.

Yusuf menilai keberadaan emas digital dan fisik sebaiknya tidak dilihat sebagai dua pilihan yang saling menjatuhkan karena keduanya mempunyai peran yang dapat saling mengisi.

Skema yang dicontohkan adalah pemanfaatan emas digital sebagai sarana pengumpulan rutin, sedangkan emas fisik difungsikan sebagai tabungan simpanan jangka panjang.

Memasuki kuartal III-2026, harga emas dunia diproyeksikan bergulir pada rentang US$ 4.500 hingga US$ 4.900 per ons troi. Proyeksi ini mengacu pada asumsi bahwa The Fed tetap mempertahankan suku bunga dan dolar AS menguat dalam level moderat.

Untuk perak, harga diperkirakan berada pada kisaran US$ 72 sampai US$ 82 per ons troi pada kuartal III-2026. Pergerakan ini ditopang oleh kondisi defisit pasokan global serta permintaan dari sektor industri kendaraan listrik dan panel surya.

Sementara itu, harga emas Antam diprediksi bergerak di rentang nilai Rp 2.750.000 sampai Rp 3.000.000 per gram pada kuartal III-2026. Kisaran harga ini menggunakan asumsi pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS di level Rp 16.300 hingga Rp 16.500.

Yusuf menambahkan bahwa fokus penilaian investor terhadap pergerakan emas kini tidak boleh hanya terpaku pada sentimen pemangkasan suku bunga dari The Fed.

Semenjak tahun 2024, pola fluktuasi emas telah mengalami pergeseran akibat pengaruh faktor lain seperti aksi borong dari bank sentral negara berkembang, keraguan atas situasi fiskal Amerika Serikat, dan kebutuhan lindung nilai di tengah eskalasi geopolitik.

Artikel terkait

Rekomendasi