Harga Emas Antam di Pegadaian 14 Mei 2026 Turun Menjadi Rp 2.939.000

Harga Emas Antam di Pegadaian 14 Mei 2026 Turun Menjadi Rp 2.939.000

Nilai jual emas batangan Antam yang tersedia di Pegadaian mengalami penurunan cukup signifikan pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Penurunan ini terjadi setelah grafik harga bergerak melandai dibandingkan posisi pada hari sebelumnya.

Dilansir dari Money, data terbaru dari Galeri 24 Pegadaian menunjukkan harga emas Antam ukuran 1 gram kini dibanderol Rp 2.939.000. Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar Rp 21.000 dari harga perdagangan terakhir.

Sementara itu, bagi pemilik emas yang ingin menjual kembali koleksinya, harga buyback emas Antam di Pegadaian ditetapkan pada level Rp 2.657.000 per gram. Pegadaian juga menyediakan berbagai pilihan ukuran berat emas mulai dari pecahan terkecil 0,5 gram hingga 100 gram.

Daftar Harga Jual dan Buyback Emas Antam di Pegadaian 14 Mei 2026
Ukuran EmasHarga Jual (Rp)Harga Buyback (Rp)
1.522.0001.328.0002.939.000
2.657.0005.815.0005.314.000
8.697.0007.972.00014.459.000
13.287.00028.861.00026.574.000
72.023.00066.111.000143.964.000
132.223.000287.846.000264.447.000

Faktor Tekanan Harga Emas Dunia

Pelemahan harga emas domestik sejalan dengan kondisi pasar global yang terkoreksi pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Kenaikan harga minyak mentah menjadi pemicu utama kekhawatiran inflasi yang memaksa suku bunga tetap berada di level tinggi.

Mengutip laporan Reuters, harga emas di pasar spot merosot 1,2 persen menuju posisi 4.678,49 dollar AS per ons. Di saat yang sama, harga emas berjangka Amerika Serikat juga melemah 0,9 persen ke angka 4.686,70 dollar AS per ons.

Lonjakan harga minyak dipengaruhi oleh menipisnya peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Situasi geopolitik ini membuat pelaku pasar cenderung waspada terhadap risiko ekonomi makro.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa upaya gencatan senjata kini berada dalam kondisi "nyaris gagal" setelah pihak Teheran memberikan penolakan terhadap proposal yang diajukan AS untuk mengakhiri konflik tersebut.

Analis dari TD Securities, Bart Melek, menilai bahwa kenaikan harga minyak menambah risiko bagi bank sentral dunia untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Hal ini bertujuan untuk meredam laju inflasi yang kian memanas.

Data terbaru memperlihatkan inflasi konsumen di Amerika Serikat terus merangkak naik selama dua bulan berturut-turut hingga April 2026. Kondisi ini memperkuat prediksi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga.

Meskipun demikian, UBS Investment Bank tetap memberikan pandangan optimis terhadap logam mulia. Joni Teves, ahli strategi logam mulia di UBS, menyebutkan bahwa fundamental emas masih sangat kuat di tengah ketidakpastian pasar.

"Fundamental emas tetap kuat dan masih berpotensi mencetak rekor tertinggi baru tahun ini," ujar Joni Teves.

Saat ini, para pelaku pasar sedang memusatkan perhatian pada perilisan data Indeks Harga Produsen (PPI) AS. Selain itu, agenda pertemuan antara Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing menjadi fokus utama investor pekan ini.

Artikel terkait

Rekomendasi