Nilai jual logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan penurunan pada pembukaan perdagangan awal pekan.
Dilansir dari Suara yang mengutip situs Logam Mulia, harga emas Antam untuk ukuran satu gram dibanderol sebesar Rp 2.764.000 pada Senin, 18 Mei 2026.
Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar Rp 5.000 jika dibandingkan dengan perdagangan hari Minggu, 17 Mei 2026.
Kondisi serupa juga terjadi pada harga buyback atau beli kembali emas Antam yang merosot sebesar Rp 7.000 dari hari sebelumnya.
Harga buyback emas Antam saat ini dipatok pada level Rp 2.569.000 per gram.
Sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3, nominal yang ditetapkan tersebut belum termasuk ketentuan pajak penghasilan (PPh).
Pemegang NPWP dikenakan potongan PPh sebesar 0,25 persen, sedangkan bagi yang tidak memiliki NPWP dikenakan potongan sebesar 0,9 persen.
Berikut adalah rincian harga emas Antam sebelum dan sesudah dikenakan pajak berdasarkan data resmi dari Logam Mulia:
| Ukuran Emas | Harga Dasar (Rp) | Harga Setelah Pajak (Rp) |
|---|---|---|
| 0,5 gram | 1.432.000 | 1.435.580 |
| 1 gram | 2.764.000 | 2.770.910 |
| 2 gram | 5.468.000 | 5.481.670 |
| 3 gram | 8.177.000 | 8.197.443 |
| 5 gram | 13.595.000 | 13.628.988 |
| 10 gram | 27.135.000 | 27.202.838 |
| 25 gram | 67.712.000 | 67.881.280 |
| 50 gram | 135.345.000 | 135.683.363 |
| 100 gram | 270.612.000 | 271.288.530 |
| 250 gram | 676.265.000 | 677.955.663 |
| 500 gram | 1.352.320.000 | 1.355.700.800 |
| 1000 gram | 2.704.600.000 | 2.711.361.500 |
Perkembangan Situasi Pasar Emas Global
Di pasar internasional, pergerakan harga emas spot mengalami pelemahan akibat meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap laju inflasi global.
Berdasarkan laporan dari FXStreet, komoditas XAU/USD ini turun ke level 4.535 dolar AS per ons troy di tengah perdagangan wilayah Asia.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah serta potensi bertahannya suku bunga tinggi di Amerika Serikat ikut memicu tekanan bagi logam mulia.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ketegangan dengan Iran turut memperkuat sentimen negatif terhadap instrumen komoditas ini.
Trump memberikan peringatan keras kepada Iran setelah dirinya menyelesaikan kunjungan kerja ke China tanpa menghasilkan kesepakatan dagang utama.
Imbas dari situasi politik tersebut mendorong kenaikan komoditas minyak mentah dunia yang kemudian memperkuat proyeksi inflasi.
"Pihak Tiongkok sebenarnya tidak menawarkan banyak bantuan dalam menyelesaikan konflik, dan kita melihat harga minyak mentah naik, yang memperkuat narasi inflasi, dan itu sangat berdampak negatif bagi logam," kata analis Marex, Edward Meir, seperti dikutip FXStreet.
Di sisi lain, laporan dari CNBC menyatakan pihak Washington mendesak Iran guna menghentikan program nuklir dan membuka akses Selat Hormuz.
Namun, kantor berita Mehr mengabarkan bahwa pihak Amerika Serikat dinilai belum memberikan konsesi nyata dalam proses diplomasi tersebut.
Data dari CME FedWatch Tool juga menunjukkan adanya pergeseran ekspektasi pasar yang kini mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Situasi suku bunga tinggi ini mengurangi daya tarik emas karena komoditas tersebut merupakan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil bunga.
Meski mendapatkan tekanan, posisi emas di pasar global dinilai masih tetap krusial sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven saat terjadi ketidakpastian.