Nilai komoditas emas dunia merosot tajam pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026) akibat mencuatnya spekulasi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas spot anjlok sebesar 1,4 persen ke posisi US$ 4.508,46 per troy ons setelah sempat menguat dengan persentase yang sama pada hari sebelumnya.
Pembalikan arah pasar ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik baru setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan ke Iran yang mengikis prospek perdamaian global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent hingga melampaui 4 persen, yang berpotensi melambungkan inflasi akibat transmisi biaya produksi ke sektor konsumen.
Padahal pada sesi sebelumnya, optimisme sempat merebak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan mengenai kesepakatan pelonggaran pelayaran di Selat Hormuz berjalan lancar. Akibat pernyataan tersebut, harga emas spot sempat naik hingga ke kisaran US$ 4.580 per ons, sementara perak melonjak 3,4 persen ke level US$ 78,08 per ons karena pelemahan indeks dolar AS.
Situasi pasar obligasi yang mengantisipasi langkah agresif dari bank sentral AS kini berbalik menekan pergerakan logam mulia. Tekanan inflasi energi membuat para pelaku pasar memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang, terutama setelah pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru.
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff menjelaskan situasi penurunan ini berkaitan erat dengan proyeksi kebijakan moneter jangka pendek Amerika Serikat.
"Pasar obligasi berpikir langkah suku bunga berikutnya dari Federal Reserve adalah kenaikan. Itu menjadi sentimen negatif bagi pasar emas hari ini," kata Jim Wyckoff dikutip dari Refinitiv.
Peta pergerakan teknikal komoditas ini dinilai masih memberikan ruang bagi penurunan harga lebih lanjut menjelang rilis data ekonomi krusial.
"Secara teknikal dalam jangka pendek, pasar masih menguntungkan pihak bearish, sehingga memicu aksi jual teknikal juga," ujar Jim Wyckoff.
Di sisi lain, pergerakan instrumen safe haven ini juga sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga energi global di tengah konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Analis UBS, Giovanni Staunovo memaparkan keterkaitan antara instrumen komoditas energi dengan pergerakan harga emas dunia.
"Aset keuangan saat ini sangat dipengaruhi oleh harga minyak, begitu pula dengan harga emas," ujar Giovanni Staunovo dilansir dari Reuters.
Penurunan harga minyak dinilai mampu memberikan stimulus positif bagi emas melalui pengaruhnya terhadap keputusan kebijakan moneter.
Secara historis, harga emas dunia telah mengalami penurunan sekitar 13 hingga 14 persen sejak konflik bersenjata tersebut pecah pada akhir Februari. Menanggapi dinamika pasar saat ini, lembaga keuangan global UBS memangkas target harga emas akhir tahun sebesar US$ 400 menjadi US$ 5.500 karena risiko penguatan dolar AS.
Analis strategi Oversea-Chinese Banking Corp, Christopher Wong mengimbau para pelaku pasar untuk tetap bersikap hati-hati di tengah fluktuasi nilai aset safe haven ini.
Sementara itu, perwakilan XS.com, Antonio Di Giacomo menilai emas masih memiliki landasan yang kokoh sebagai instrumen pelindung nilai, meskipun terdapat faktor penghambat yang besar.
Pada perdagangan Rabu (27/5/2026) pagi pukul 06.22 WIB, harga emas terpantau mengalami koreksi positif tipis sebesar 0,04 persen ke posisi US$ 4.506,42 per troy ons. Tren serupa terjadi pada komoditas perak yang merosot 1,44 persen ke posisi US$ 76,95 pada hari Selasa, namun mulai merangkak naik 0,25 persen ke level US$ 77,14 per troy ons pada hari berikutnya.