Harga Emas Dunia Melemah ke 4.494 Dollar AS Per Ons 18 Mei 2026

Harga Emas Dunia Melemah ke 4.494 Dollar AS Per Ons 18 Mei 2026

Harga emas di pasar global kembali menunjukkan tren penurunan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi. Kondisi ini dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang hingga saat ini belum mereda.

Seperti dikutip dari Money, harga emas dunia diperdagangkan di bawah 4.550 dollar AS per ons pada Senin (18/5/2026). Penurunan ini terjadi setelah komoditas tersebut jatuh hampir 4 persen sepanjang pekan lalu.

Pada sesi perdagangan pagi waktu Asia, harga emas di pasar spot bertengger di level 4.494,7 dollar AS per ons. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 1,17 persen.

Perkembangan ini mengindikasikan bahwa tekanan pasar terhadap emas masih sangat kuat. Ketidakpastian geopolitik serta arah kebijakan moneter global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset aman ini.

Koreksi harga emas dunia terjadi seiring adanya bukti bahwa lonjakan harga energi dari Timur Tengah mulai memicu tekanan inflasi yang lebih luas. Situasi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral global akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Di sisi lain, pergerakan emas juga terbebani oleh penguatan dollar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Sentimen negatif ini menguat setelah data inflasi Amerika Serikat rilis lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Data ekonomi tersebut mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun ini. Pasar bahkan mulai berspekulasi bahwa bank sentral AS masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Dalam iklim suku bunga yang tinggi, emas biasanya kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil bunga bagi para pemegangnya. Hal ini membuat dinamika pergerakan harga emas menjadi pusat perhatian besar bagi para pelaku pasar.

Para pelaku pasar saat ini terus memantau perkembangan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Fokus utama tertuju pada wilayah Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia.

Presiden AS, Donald Trump memberikan peringatan bahwa pihak Teheran mulai kehabisan waktu untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. Sementara itu, media Iran mengabarkan bahwa negosiasi kedua belah pihak masih buntu karena AS dinilai tidak memberikan konsesi berarti.

Situasi regional kian memanas setelah beberapa infrastruktur energi di Teluk Persia menjadi target serangan pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut dilaporkan turut mengenai fasilitas nuklir yang berada di Uni Emirat Arab.

Insiden ini memperbesar kecemasan mengenai potensi terganggunya pasokan energi global yang bisa mendongkrak harga minyak. Apabila harga energi terus merangkak naik, tekanan inflasi global diproyeksikan bakal semakin menanjak.

Dikutip dari Bloomberg, Senior Commodity Strategist ANZ Group Holdings Ltd Daniel Hynes memberikan penjelasan mengenai kondisi ini.

"Kenaikan imbal hasil obligasi membuat daya tarik investasi emas menurun sehingga investor mulai mengurangi kepemilikan aset safe haven tersebut." kata Daniel Hynes.

Kendati demikian, pihak ANZ masih melihat adanya potensi kenaikan harga emas dunia hingga menyentuh 6.000 dollar AS per ons pada pertengahan 2027. Skenario ini dapat terjadi jika pertumbuhan ekonomi global melemah dan bank sentral mulai melonggarkan kebijakan moneter mereka.

Penurunan Harga Perak dan Tembaga

Tren pelemahan di pasar logam tidak hanya melanda emas, melainkan juga berdampak pada komoditas lainnya.

Harga perak dilaporkan mengalami penurunan sebesar 1,40 persen ke level 74,683 dollar AS per ons. Secara akumulatif, komoditas perak telah melemah sebanyak 4,37 persen dalam kurun waktu sebulan terakhir.

Sementara itu, komoditas tembaga mencatatkan penurunan sebesar 0,96 persen menjadi 6,1916 dollar AS per pon. Walau mengalami koreksi jangka pendek, harga tembaga secara tahunan masih membukukan penguatan di atas 34 persen.

Jika dihitung secara tahunan, performa harga emas dunia sebenarnya masih berada dalam tren positif dengan pertumbuhan sekitar 40,47 persen. Angka ini bertahan meskipun dalam beberapa pekan belakangan emas harus menghadapi tekanan koreksi yang cukup signifikan.

Artikel terkait

Rekomendasi