Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Tekanan Inflasi Amerika Serikat

Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Tekanan Inflasi Amerika Serikat

Harga emas global mengalami tekanan besar hingga melemah tajam ke kisaran USD 4.530 sampai USD 4.538 per troy ons pada penutupan perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh lonjakan inflasi Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi.

Dilansir dari Refinitiv, harga emas ditutup merosot 2,40 persen secara harian dan mencatat pelemahan mingguan sebesar 3,74 persen. Sementara itu, data Trading Economics menunjukkan tingkat inflasi tahunan Amerika Serikat naik menjadi 3,8 persen pada April 2026, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2023.

Kondisi inflasi yang memanas serta lonjakan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar Amerika Serikat membuat pelaku pasar mengubah proyeksi mereka terhadap kebijakan bank sentral. Data perak juga ikut tertekan dengan pelemahan mingguan sebesar 5,44 persen ke posisi USD 75,95 per troy ons, meskipun kedua komoditas ini mulai menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026 pagi.

"Pasar kini sepenuhnya menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dengan sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember," tulis Trading Economics.

Selain faktor domestik Amerika Serikat, situasi geopolitik di Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi turut memperparah risiko inflasi global akibat lonjakan harga minyak hingga di atas USD 100 per barel. Tekanan di pasar logam mulia juga ditambah oleh kebijakan proteksi mata uang dari India yang memperketat aturan impor emas dan perak demi menjaga cadangan devisa mereka.

Pelaku pasar kini mengamati level teknikal penting emas pada angka USD 4.481,78 per troy ons. Jika pergerakan harga ditutup di bawah titik tersebut, maka komoditas logam mulia ini secara teknikal akan resmi masuk dalam fase bear market.

Artikel terkait

Rekomendasi