Harga Emas Dunia Melonjak 1,2 Persen pada 25 Mei 2026

Harga Emas Dunia Melonjak 1,2 Persen pada 25 Mei 2026

Harga emas dunia mengalami penguatan lebih dari 1 persen pada awal pekan seiring meningkatnya harapan terkait kesepakatan damai di Timur Tengah yang melibatkan Iran, dilansir dari Investasi.

Sentimen positif tersebut menekan harga minyak serta melemahkan dolar Amerika Serikat (AS), yang kemudian meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan prospek suku bunga tinggi dalam jangka panjang.

Pada perdagangan Senin (25/5/2026), harga emas spot melonjak 1,2 persen menjadi US$ 4.561,51 per ons pada pukul 13.19 GMT.

Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga ikut menguat 0,9 persen menuju level US$ 4.563,60, di mana pasar keuangan Amerika Serikat sendiri sedang tutup karena libur Memorial Day.

Optimisme pasar muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa kedua negara telah mencapai kemajuan dalam perundingan awal mengenai kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz.

Kendati demikian, kedua belah pihak dilaporkan masih memiliki perbedaan pandangan terkait sejumlah isu utama yang krusial untuk mengakhiri konflik yang telah berjalan selama tiga bulan tersebut.

Di pasar energi, harga minyak merosot hingga di bawah US$ 100 per barel dan menyentuh level terendah dalam dua pekan, sementara dolar AS melemah ke posisi terendah dalam satu pekan.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai pergerakan harga logam mulia ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi yang terjadi pada komoditas minyak.

Menurutnya, penurunan harga minyak mendorong penguatan emas karena memicu ekspektasi pelaku pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat.

"Penurunan harga minyak mengangkat emas, karena pasar mulai mengantisipasi dampaknya terhadap kebijakan Federal Reserve," ujar Staunovo.

Ia menambahkan bahwa tren penguatan tersebut memiliki potensi untuk terus berlanjut dalam jangka pendek.

Sebelumnya, harga emas tercatat telah turun sekitar 14 persen sejak konflik Iran dimulai pada akhir Februari lalu akibat lonjakan harga energi yang memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 40 persen bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.

Angka ekspektasi tersebut menunjukkan perubahan tajam dibandingkan periode sebelum konflik, saat mayoritas ekonom memperkirakan terjadinya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

Dinamika geopolitik ini juga berjalan beriringan dengan kebijakan ekonomi AS, di mana Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua The Federal Reserve pada Jumat lalu.

Warsh memulai jabatannya di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga bensin dari konflik Timur Tengah yang turut menekan sentimen konsumen.

Pergerakan positif ini juga diikuti oleh logam mulia lainnya, di mana harga perak spot naik 2,5 persen ke US$ 77,41 per ons.

Selanjutnya, harga platinum tercatat menguat 1,9 persen menjadi US$ 1.959,30, sementara palladium naik 2,8 persen ke level US$ 1.386,00.

Artikel terkait

Rekomendasi