Harga emas dunia mengalami lonjakan signifikan setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu (3/6). Dilansir dari Investasi, harga emas spot naik 1,7 persen menjadi US$ 4.505,35 per ons troi pada pukul 09.05 waktu New York.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga menguat sebesar 1,5 persen. Komoditas tersebut kini bertengger di level US$ 4.532,80 per ons troi.
Kesepakatan damai di Timur Tengah ini turut memicu optimisme pasar terhadap potensi titik terang negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut langsung berdampak pada penurunan harga minyak dunia hingga lebih dari 3 persen.
Pelaku pasar mengharapkan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak global dapat segera beroperasi normal. Di saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat melemah sekitar 0,3 persen sehingga membuat emas lebih murah bagi pemilik mata uang lain.
Daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil juga meningkat akibat penurunan yield obligasi Amerika Serikat, termasuk tenor 10 tahun. Pergerakan instrumen keuangan ini turut dibayangi kondisi rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS, meski Menkeu Purbaya menyebut hal itu dipicu sentimen dan rumor, bukan masalah fiskal.
Trader logam independen Tai Wong menilai pelemahan dolar dan yield obligasi membantu harga emas bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari. Menurutnya, rekor tertinggi baru akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Rekor harga emas baru akan lebih sulit tercapai jika terjadi gencatan senjata permanen dengan Iran yang memungkinkan Selat Hormuz kembali dibuka, harga energi turun, dan kekhawatiran pasar terhadap suku bunga mereda,” ujar Tai Wong.Meskipun menguat pada perdagangan terbaru, posisi harga emas saat ini masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa. Rekor tersebut sempat menyentuh angka US$ 5.594,82 per ons troi pada 29 Januari 2026.
Harga emas tercatat telah terkoreksi sekitar 16 persen sejak konflik Iran memanas pada akhir Februari lalu. Saat ini pelaku pasar sedang menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat periode Mei yang dijadwalkan keluar pada Jumat (5/6).
Data tenaga kerja tersebut dinilai sangat krusial untuk mengukur kondisi pasar. Informasi ini juga akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve mendatang.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas, melainkan juga pada sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak spot tercatat melonjak 3,1 persen ke level US$ 74,96 per ons troi.
Selanjutnya, harga platinum mengalami kenaikan sebesar 1,9 persen menjadi US$ 1.895,29 per ons troi. Komoditas paladium juga ikut menguat sebesar 1,6 persen menuju posisi US$ 1.322,01 per ons troi.