Harga Emas Dunia Menguat Jelang Rilis Data Inflasi Amerika Serikat

Harga Emas Dunia Menguat Jelang Rilis Data Inflasi Amerika Serikat

Nilai tukar emas internasional mengalami penguatan pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi WIB seiring fokus investor terhadap data inflasi Amerika Serikat dan ketegangan diplomatik antara Washington dengan Iran. Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan tajam yang sempat terjadi di awal sesi perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data yang dilansir dari Money melalui laporan Reuters, harga emas di pasar spot mencatat kenaikan 0,2 persen ke level 4.723,40 dollar AS per ons. Sementara itu, perdagangan emas berjangka di Amerika Serikat berakhir stabil pada posisi 4.728,70 dollar AS per ons.

Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, memberikan pandangannya mengenai pergerakan positif komoditas logam mulia tersebut. Ia menyoroti adanya aktivitas pembelian kembali oleh para pelaku pasar saat harga sedang berada di posisi rendah.

"Ada aksi bargain hunting dan penyesuaian posisi menjelang rilis data inflasi AS pekan ini," ujarnya.

Pelaku pasar saat ini sedang menunggu laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang akan diterbitkan pada Selasa waktu setempat. Langkah antisipasi berlanjut dengan jadwal rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) yang direncanakan keluar pada hari Rabu mendatang.

Ketegangan geopolitik turut menjadi pendorong harga setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran. Penolakan tersebut memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan pada jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang telah terdampak konflik selama sepuluh pekan terakhir.

Analis dari ING mencatat bahwa kegagalan kesepakatan damai ini mempertahankan tingkat ketidakpastian pasar tetap tinggi. Situasi tersebut juga memicu kenaikan harga minyak mentah dunia yang berisiko memperburuk kondisi inflasi global.

"Kemunduran ini membuat jadwal gencatan senjata menjadi tidak pasti dan menjaga risiko inflasi tetap tinggi, memperkuat pandangan bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, yang selama konflik ini membebani emas,” tulis analis ING.

Meskipun menghadapi tantangan jangka pendek, lembaga perbankan asal Belanda tersebut tetap memproyeksikan harga emas berpeluang menembus 5.000 dollar AS per ons pada pengujung tahun ini. Proyeksi tersebut bertahan di tengah perpecahan ekspektasi pasar mengenai kebijakan suku bunga acuan tahun 2026.

Selain faktor ekonomi, perhatian pasar juga tertuju pada rencana kunjungan kenegaraan dua hari Donald Trump ke China untuk menemui Presiden Xi Jinping. Agenda pertemuan tersebut mencakup pembahasan mengenai isu nuklir, teknologi kecerdasan buatan, Taiwan, hingga persoalan Iran.

Kenaikan harga pada pasar komoditas logam mulia juga diikuti oleh instrumen lainnya. Harga perak melonjak signifikan sebesar 6,6 persen ke 85,65 dollar AS per ons, diikuti kenaikan platinum sebesar 3 persen ke 2.116,72 dollar AS, dan palladium naik 0,8 persen ke level 1.503,11 dollar AS per ons.

Artikel terkait

Rekomendasi