Nilai komoditas emas di pasar internasional mencatatkan lonjakan setelah sempat merosot ke titik terendah dalam dua bulan terakhir pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Dilansir dari Investasi, pemulihan ini dipicu oleh berkurangnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan penyusutan tekanan inflasi di tingkat global.
Grafik perdagangan memperlihatkan nilai emas spot melonjak sebesar 1,39 persen menuju level US$ 4.543,55 per troy ons. Sehari sebelumnya, harga komoditas ini sempat terperosok hingga menyentuh area US$ 4.490 per troy ons.
Sentimen positif pasar kembali terbangun setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa proses negosiasi dengan pihak Iran telah memasuki fase final. Walau demikian, Trump tetap memberikan peringatan mengenai potensi serangan susulan sekiranya Iran menolak kesepakatan damai.
Selain faktor geopolitik, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menjadi pendorong penguatan harga emas. Yield Treasury berdurasi 10 tahun terpantau merosot menjadi 4,576 persen dari angka sebelumnya yang berada di posisi 4,669 persen.
“Penurunan yield memberikan ruang bagi emas untuk rebound setelah tekanan besar dalam beberapa sesi terakhir,” ujar Alwi dalam risetnya, Kamis (21/5/2026).
Menurut penjelasan Alwi Assegaf selaku Research & Development Trijaya Pratama Futures, kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi mulai berkurang pasca adanya indikasi redanya ketegangan di Timur Tengah. Data aktivitas pelayaran pun memperlihatkan sejumlah kapal supertanker dan pengangkut minyak milik China mulai bergerak keluar dari Selat Hormuz, yang berdampak pada penurunan harga minyak mentah.
Meskipun kondisi pasar berangsur membaik, dokumen risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan April 2026 mengindikasikan bahwa mayoritas petinggi Federal Reserve masih melihat adanya peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini. Pengetatan moneter dipandang tetap krusial apabila laju inflasi tidak kunjung turun ke bawah target 2 persen.
Langkah investasi di tengah situasi pasar saat ini turut menjadi perhatian para analis komoditas. Investor kini sedang menantikan rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat untuk menentukan pergerakan aset ke depan.
“Pergerakan dolar AS dan harga energi diperkirakan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah emas dalam jangka pendek,” ucap Tiffani.
Tiffani Safinia selaku Research & Development ICDX memaparkan bahwa para pemodal dengan jangka waktu menengah hingga panjang masih dapat melakukan pembelian aset secara bertahap. Hal ini dikarenakan emas tetap dipandang sebagai instrumen lindung nilai yang efektif terhadap risiko inflasi serta dinamika ketidakpastian global.
“Pergerakan dolar AS dan harga energi diperkirakan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah emas dalam jangka pendek,” ucap Tiffani.
Dari sisi analisis teknikal pada kerangka waktu H4, Alwi Assegaf menilai posisi emas secara umum sebenarnya masih berada dalam tekanan bearish walau mulai memperlihatkan sinyal pembalikan arah jangka pendek setelah bertahan di atas level support 4.453.
Tren penurunan dianggap masih dominan lantaran pergerakan harga emas masih tertahan di bawah garis tren menurun dan area moving average. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) yang merangkak naik dari zona jenuh jual menjadi indikasi bahwa kekuatan pelemahan harga sudah mulai berkurang.
Apabila pergerakan harga mampu menembus titik resistance pada rentang US$ 4.589 sampai US$ 4.637, emas berpeluang melanjutkan penguatan menuju level US$ 4.773. Sebaliknya, kegagalan melewati area resistance tersebut berisiko menyeret kembali harga emas ke bawah level US$ 4.511 dengan potensi penurunan lanjutan menuju area support di kisaran US$ 4.453 hingga US$ 4.404.