Harga emas dunia merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Selasa (19/5/2026) akibat tertekan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap tingkat inflasi global yang dinilai masih tetap tinggi.
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir dari Investasi, harga emas spot anjlok 1,4 persen ke level US$ 4.503,98 per ons pada pukul 13.45 waktu setempat. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 1 persen pada posisi US$ 4.511,20 per ons.
Koreksi harga emas sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir. Di sisi lain, penguatan dolar AS terjadi karena investor mengantisipasi sikap agresif dari The Federal Reserve dalam meredam inflasi akibat lonjakan harga energi.
Kenaikan suku bunga riil di berbagai negara menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas, ditambah dengan penguatan mata uang dolar AS yang memperburuk tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Peningkatan imbal hasil obligasi menaikkan biaya peluang memegang emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, penguatan dolar AS membuat harga komoditas menjadi lebih mahal bagi pengguna mata uang lain.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$ 110 per barel karena kekhawatiran pasokan global yang memicu ekspektasi inflasi dunia terus meningkat. Situasi ini mendorong bank-bank sentral untuk mempertahankan suku bunga di level tinggi.
Pasar saat ini menilai peluang penurunan suku bunga The Fed sepanjang tahun 2026 menjadi semakin terbatas. Ekspektasi investor bahkan mulai bergeser ke arah kebijakan suku bunga tetap atau pengetatan kembali pada akhir tahun.
Meskipun tekanan dari lonjakan harga energi jangka pendek menciptakan tantangan berat bagi pergerakan harga emas, prospek jangka panjang dari logam mulia ini dinilai masih cukup kuat.
Permintaan emas dari bank-bank sentral berpotensi kembali menjadi penggerak utama pasar setelah tekanan dari kenaikan harga energi mulai mereda. Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan rilis risalah rapat kebijakan terbaru The Fed pada Rabu waktu AS.
Pelemahan perdagangan tidak hanya melanda emas, melainkan juga terjadi pada komoditas logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 4,1 persen ke posisi US$ 74,53 per ons, platinum terkoreksi 2,2 persen menjadi US$ 1.936,10 per ons, dan palladium anjlok 4,2 persen ke level US$ 1.359,26 per ons.
Meskipun terjadi penurunan saat ini, J.P. Morgan memproyeksikan harga platinum dapat menyentuh US$ 2.400 per ons pada kuartal IV-2026. Bank investasi tersebut juga memperkirakan harga palladium berpotensi naik ke posisi US$ 1.600 per ons pada periode yang sama.