Harga emas dunia mengalami penguatan ke level US$4.695 per ons troi pada perdagangan Jumat (8/5/2026) pukul 06.36 WIB setelah sempat melandai pada hari sebelumnya. Kenaikan sebesar 0,21 persen ini dipicu oleh optimisme pasar terhadap peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Berdasarkan data Refinitiv, pergerakan positif ini terjadi setelah emas ditutup di posisi US$4.685,18 per ons troi pada Kamis (7/5/2026). Selain faktor geopolitik, harga emas mendapat sokongan dari aksi bank sentral China yang terus menambah cadangan logam mulia mereka selama 18 bulan berturut-turut hingga April 2026.
Senior Market Strategist di RJO Futures, Bob Haberkorn, memproyeksikan potensi reli harga lebih lanjut jika stabilitas di Timur Tengah tercapai sepenuhnya. Menurutnya, berakhirnya perang akan mengembalikan aktivitas bisnis ke level normal.
"Jika gencatan senjata bertahan, perang ini bisa ditinggalkan, dan aktivitas bisnis kembali normal dengan Selat Hormuz terbuka, saya bisa melihat harga emas menembus US$5.000 per ounce," kata Bob Haberkorn.
Ia juga menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini sedang memfokuskan perhatian pada dua variabel utama di pasar global. Hal ini berkaitan dengan stabilitas keamanan dan kebijakan moneter di Amerika Serikat.
"Pasar saat ini hanya memantau situasi di Timur Tengah, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS," tambahnya.
Lembaga keuangan TD Securities dalam catatan risetnya memperkirakan harga emas bahkan mampu melampaui level US$5.200 per ons troi. Kondisi ini diprediksi terjadi saat tekanan inflasi dari sektor energi mulai mereda dan terjadi pergeseran fokus kebijakan The Fed.
"Perubahan arah kebijakan The Fed yang lebih fokus pada pasar tenaga kerja, penurunan imbal hasil obligasi, serta pelemahan dolar AS, ditambah kembali meningkatnya permintaan investor dan bank sentral, dapat memicu kembali tren bullish emas," tulis TD Securities.
Analisis berbeda datang dari World Gold Council (WGC) yang menyoroti fase konsolidasi logam mulia. Analis Senior Kuantitatif WGC, Johan Palmberg, menjelaskan bahwa meredanya volatilitas pasar global membuat sebagian investor mulai kembali beralih ke aset berisiko, yang sempat menahan laju kenaikan harga emas pada April 2026.
"Pasar saat ini hanya memantau situasi di Timur Tengah, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS," terang Johan Palmberg.
Meskipun emas menunjukkan penguatan tipis, komoditas perak justru mencatatkan lonjakan harga yang lebih signifikan. Hingga Jumat (8/5/2026) pagi, harga perak melesat 0,76 persen ke posisi US$79,07 per ons troi, melanjutkan tren kenaikan hampir 8 persen dalam tiga hari terakhir.
| Mata Uang | Return April 2026 |
|---|---|
| USD | 0,1% |
| Euro | -1,5% |
| Yen Jepang | -1,4% |
| Poundsterling | -2,6% |
| Dolar Kanada | -2,3% |
| Franc Swiss | -2,3% |
| Rupee India | 2,5% |
| Yuan China | -0,4% |
| Lira Turki | 1,7% |
| Dolar Australia | -4,1% |