Harga Emas Dunia Rebound 29 Mei 2026 Investor Ritel Perlu Selektif

Harga Emas Dunia Rebound 29 Mei 2026 Investor Ritel Perlu Selektif

Tren pemulihan mulai terlihat pada pergerakan harga emas dunia setelah sempat mengalami tekanan dalam satu bulan terakhir. Dikutip dari Investasi, fluktuasi ini mengharuskan investor ritel untuk lebih cermat dalam menentukan strategi investasi, terutama karena selisih (spread) antara harga jual dan buyback emas batangan domestik masih cukup lebar.

Data Trading Economics pukul 17.59 WIB menunjukkan harga emas spot menguat 0,96% secara harian ke level US$ 4.538 per ons troi. Meskipun demikian, dalam akumulasi sebulan terakhir, komoditas ini tercatat masih terkoreksi sebesar 2,13%.

Ekonom Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa pemahaman mengenai tujuan awal investasi sangat krusial bagi investor. Logam mulia ini perlu dipetakan sejak awal apakah ditujukan untuk mengejar keuntungan jangka pendek atau berfungsi sebagai instrumen penyimpan nilai dalam jangka panjang.

Menurut analisis Yusuf, emas batangan kurang cocok dijadikan pilihan untuk trading jangka pendek karena beban spread harga jual dan buyback yang tinggi. Sebagai contoh, emas bersertifikat ANTAM saat ini dijual seharga Rp 2.774.000 per gram, sedangkan harga buyback berada di angka Rp 2.579.000 per gram, yang berarti ada selisih sebesar Rp 195.000 atau mencapai 7,03%.

Kondisi serupa juga terlihat pada penyedia lain, di mana emas Galeri 24 dipatok Rp 2.772.000 per gram dengan buyback Rp 2.600.000 per gram, menghasilkan spread sekitar 6,20%. Sementara itu, emas UBS ukuran 1 gram memiliki spread tertinggi sekitar 8,89% dengan harga jual Rp 2.795.400 dan buyback Rp 2.547.000 per gram.

"Investor yang membeli emas pada akhir April 2026 lalu menjualnya hari ini kemungkinan masih mengalami kerugian meskipun harga emas dunia sebenarnya sudah naik," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Guna menghadapi fluktuasi pasar, Yusuf merekomendasikan metode dollar cost averaging (DCA), yakni melakukan pembelian emas secara konsisten dan bertahap. Langkah ini dinilai efektif untuk menetralisasi dampak naik-turun harga karena mampu menjaga rata-rata harga pembelian modal investor.

Penerapan strategi DCA juga membantu investor terhindar dari ketergantungan pada momentum pasar atau market timing. Pola pendekatan ini dipandang sangat ideal bagi pelaku pasar yang memproyeksikan emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang.

Yusuf memberikan gambaran bahwa investor yang mengumpulkan emas sejak Mei 2025 saat harga masih berkisar Rp 1,9 juta per gram, saat ini sudah mengantongi potensi keuntungan sekitar 35% jika dihitung berdasarkan nilai buyback terkini.

Di sisi lain, alternatif emas digital kini semakin diminati, khususnya oleh generasi muda yang baru mulai membangun portofolio investasi. Instrumen digital ini menawarkan keunggulan berupa spread yang lebih rendah di kisaran 2% hingga 3%, fleksibilitas dalam bertransaksi, serta nilai batas minimal pembelian yang sangat terjangkau.

"Dengan dana Rp 10.000 pun investor sudah bisa mulai membeli emas," kata Yusuf.

Faktor keamanan tetap menjadi poin utama yang harus diperhatikan oleh investor. Yusuf mengingatkan agar masyarakat memastikan platform emas digital yang dipilih telah mengantongi izin resmi dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) serta memiliki kustodian yang terpercaya.

Menurut pandangannya, keberadaan emas digital dan fisik tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan karena kedua instrumen tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam strategi finansial.

"Misalnya sebagian digunakan untuk akumulasi rutin lewat digital, sementara sebagian lagi disimpan dalam bentuk fisik untuk jangka panjang maupun perlindungan saat terjadi risiko sistemik karena bisa dipegang langsung oleh pemiliknya," tutup Yusuf.

Artikel terkait

Rekomendasi