Pasar logam mulia mengalami tekanan besar dalam sepekan terakhir akibat kombinasi penguatan dollar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil obligasi. Lonjakan biaya pinjaman global serta kecemasan inflasi yang dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah memperparah koreksi harga komoditas ini.
Seperti dilansir dari Money, harga emas di pasar spot mencatatkan penurunan sebesar 2,5 persen sepanjang pekan ini. Pelemahan tersebut mencerminkan pergeseran minat investor yang mulai menjauhi aset tanpa imbal hasil di tengah tren penguatan mata uang AS.
Pada sesi penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (15/5/2026) waktu setempat, harga emas di pasar spot sempat merosot tajam ke level 4.557,61 dollar AS per ons. Nilai tersebut menjadi titik terendah sejak 4 Mei 2026 sebelum akhirnya ditutup dengan pelemahan sebesar 2 persen.
Koreksi serupa melanda kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni yang berakhir merosot 2,7 persen. Instrumen ini menyudahi sesi perdagangan di posisi 4.561,90 dollar AS per ons.
Apresiasi dollar AS dan tingkat pengembalian obligasi pemerintah AS yang menyentuh rekor tertinggi dalam hampir setahun terakhir menjadi pemicu utama. Situasi tersebut seketika mengikis daya tarik emas sebagai instrumen pelindung nilai.
"Terjadi aksi jual di pasar logam mulia karena beberapa faktor. Dollar menguat cukup signifikan, dan kita juga melihat kenaikan imbal hasil obligasi, tidak hanya di AS tetapi juga secara global," kata analis Marex, Edward Meir.
Meningkatnya nilai tukar dollar AS secara otomatis mendongkrak biaya pembelian emas bagi para pelaku pasar yang menggunakan mata uang lain. Dampaknya, volume permintaan terhadap logam kuning tersebut mengalami penyusutan di pasar internasional.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut membayangi pergerakan pasar setelah konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026 berhasil mengerek harga minyak dunia hingga melampaui 40 persen. Konvulsasi geopolitik ini memicu kecemasan mendalam terhadap potensi lonjakan inflasi global.
Tekanan inflasi yang membubung biasanya direspons oleh bank sentral melalui pengetatan kebijakan moneter atau kenaikan suku bunga. Prospek restriksi moneter ini yang kemudian menekan daya saing emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya semakin kehilangan kesabaran terhadap Iran. Pernyataan tersebut keluar di saat para pelaku pasar tengah mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, mayoritas pelaku pasar kini mulai memangkas ekspektasi terhadap pelonggaran moneter atau pemotongan suku bunga pada tahun ini. Sebaliknya, spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan justru mulai bermunculan ke permukaan.
Tren penurunan ini tidak hanya melanda emas, melainkan juga menyeret komoditas logam mulia lainnya. Harga perak di pasar spot tercatat anjlok sebesar 7,7 persen menjadi 77,07 dollar AS per ons pada akhir perdagangan pekan lalu.
Analis StoneX, Rhona O’Connell, menyebut perak sedang berada dalam kondisi jenuh beli sehingga membutuhkan koreksi. Komoditas ini bahkan sempat merosot hingga 9 persen dalam satu hari perdagangan dan membukukan performa harian terburuk sejak 3 Maret 2026.