Nilai emas dunia mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026) waktu setempat setelah kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terkait inflasi dan potensi bertahannya suku bunga tinggi dalam jangka panjang.
Dilansir dari Money melalui Reuters, harga emas spot terkoreksi sebesar 1,2 persen menjadi 4.678,49 dollar AS per ons, sementara emas berjangka Amerika Serikat (AS) melemah 0,9 persen ke posisi 4.686,70 dollar AS per ons.
Tekanan terhadap logam mulia ini muncul setelah harga minyak melonjak lebih dari 3 persen akibat memudarnya harapan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah diprediksi akan berlangsung lama setelah Teheran menolak proposal gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa upaya gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi "nyaris gagal" setelah pihak Teheran secara resmi menolak usulan yang diajukan oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik tersebut.
Analis TD Securities Bart Melek menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak memperbesar risiko bagi bank sentral global untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat guna meredam laju inflasi.
"Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan risiko bank sentral AS dan lainnya harus menaikkan suku bunga untuk melawan kondisi stagflasi yang kemungkinan akan muncul. Karena itu emas merespons tekanan tersebut," ujar Bart Melek, Analis TD Securities.
Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi konsumen di Amerika Serikat terus merangkak naik selama dua bulan berturut-turut hingga April 2026. Kondisi ini memperkuat prediksi pasar bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama karena laju inflasi tahunan mencapai level tertinggi dalam tiga tahun.
Meskipun emas biasanya berfungsi sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil membuatnya kurang menarik bagi investor saat suku bunga sedang tinggi. Namun, UBS Investment Bank tetap memberikan penilaian positif terhadap prospek logam mulia ini ke depan.
Ahli strategi logam mulia UBS Joni Teves memberikan penegasan bahwa indikator fundamental yang mendukung pergerakan harga emas saat ini sebenarnya masih berada dalam posisi yang kuat.
"Kami masih melihat harga emas bisa pulih dari level saat ini dan terus mencetak rekor tertinggi baru tahun ini," kata Joni Teves, Ahli strategi logam mulia UBS.
Koreksi harga juga merambah ke komoditas logam lainnya, di mana perak spot turun 1,1 persen menjadi 85,12 dollar AS per ons. Penurunan ini terjadi tepat setelah perak sempat menyentuh level tertingginya dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Analis dari SP Angel memberikan catatan bahwa lonjakan harga perak sebelumnya didorong oleh ekspektasi terjadinya defisit pasokan di tengah permintaan fisik yang terus meningkat pesat.
"Meningkatnya harga minyak mendorong penjualan kendaraan listrik yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan perak untuk teknologi surya dan energi terbarukan lainnya," tulis analis SP Angel.
Di sektor logam lainnya, platinum tercatat turun 1,5 persen ke angka 2.099,05 dollar AS per ons. Sementara itu, palladium mengalami pelemahan sebesar 2 persen menjadi 1.479,27 dollar AS per ons pada sesi perdagangan yang sama.
Investor kini mengalihkan perhatian pada rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat serta agenda pertemuan Presiden Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing yang dijadwalkan berlangsung Kamis hingga Jumat.