Harga Grosir Jepang Melonjak 2,3 Persen Akibat Gangguan Energi

Harga Grosir Jepang Melonjak 2,3 Persen Akibat Gangguan Energi

Bank of Japan (BOJ) menghadapi tekanan inflasi baru setelah indeks harga grosir atau Corporate Goods Price Index (CGPI) Jepang tercatat melonjak 2,3 persen secara tahunan pada April 2024. Kenaikan harga barang antarperusahaan yang dilansir dari Internasional ini dipicu oleh gangguan pasokan minyak di Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar yen.

Data bulanan menunjukkan pertumbuhan harga grosir April lebih tinggi dibandingkan kenaikan sebesar 1 persen yang terjadi pada Maret. Akselerasi biaya produksi ini memperkuat spekulasi pasar mengenai potensi kebijakan bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat guna menstabilkan harga di tingkat konsumen.

Tekanan harga terlihat signifikan pada komoditas impor berbasis yen yang melesat 17,5 persen dibanding tahun sebelumnya, menandai laju tercepat sejak Desember 2022. Kondisi tersebut memaksa industri petrokimia dan manufaktur menanggung beban biaya bahan baku yang jauh lebih mahal, terutama pada produk nafta yang harganya melesat hingga 79,4 persen.

Pejabat internal bank sentral mulai menyuarakan perlunya langkah proaktif untuk mengendalikan situasi ekonomi ini. Kebijakan moneter diprediksi akan mengalami penyesuaian sebagai respons terhadap lonjakan biaya energi yang terus membebani sektor domestik.

"sesegera mungkin" kata salah satu pejabat BOJ, terkait permintaan kenaikan suku bunga guna meredam tekanan harga akibat lonjakan biaya energi.

Ekonom Senior Sompo Institute Plus, Masato Koike, menilai bahwa tren kenaikan inflasi pada tingkat grosir ini masih berpotensi berlanjut dalam beberapa periode mendatang. Menurutnya, respons bank sentral akan sangat bergantung pada seberapa luas dampak kenaikan harga ini menyebar ke sektor-sektor lain di luar energi.

"inflasi harga grosir berpotensi terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan." kata Masato Koike, Ekonom Senior Sompo Institute Plus.

Koike menambahkan bahwa BOJ kemungkinan tidak akan bertindak terlalu agresif jika kenaikan harga hanya terlokalisasi pada sektor komoditas energi tertentu. Namun, langkah pengetatan moneter menjadi tak terhindarkan apabila inflasi mulai merambah ke berbagai sektor industri secara merata.

Laporan dari Bloomberg pada 15 Mei 2024 juga menyoroti kenaikan tajam pada produk minyak bumi dan batu bara sebesar 5,3 persen, serta produk kimia yang naik 9,2 persen. Gangguan logistik di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian pasokan energi bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi