Kenaikan Harga Kedelai Impor Ancam Perajin Tahu Tempe di Lebak

Kenaikan Harga Kedelai Impor Ancam Perajin Tahu Tempe di Lebak

Ratusan pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Lebak, Banten, kini menghadapi ancaman kebangkrutan. Kondisi sulit ini terjadi akibat ketergantungan pada bahan baku kedelai impor yang harganya melonjak drastis.

Para produsen di wilayah tersebut mengeluhkan harga kedelai impor yang melonjak menjadi Rp545.000 per 50 kilogram. Padahal, komoditas tersebut sebelumnya hanya berada di kisaran Rp300.000, seperti dikutip dari Suara.

"Jika harga kedelai tidak dikendalikan, (kami) dipastikan menghentikan produksi," kata Ujang (50), pengrajin tahu di Rangkasbitung, Lebak pada akhir pekan kemarin.

Beban operasional para perajin semakin berat karena komoditas pendukung lain juga mengalami kenaikan. Menurut Mad Soleh (58), perajin tahu di Rangkasbitung, harga minyak goreng dan kayu bakar ikut merangkak naik.

"Kami sekarang terpaksa mengurangi ukuran menjadi lebih kecil agar bisa bertahan, karena harga kedelai melambung," kata Mad Soleh dilansir dari Antara.

Kenaikan harga bahan baku ini dilaporkan terjadi hampir setiap hari dalam dua pekan terakhir, sehingga menggerus omzet harian secara signifikan. Dampaknya, volume produksi tahu Mad Soleh merosot hingga setengahnya, dari 100 kilogram menjadi hanya 50 kilogram.

"Kita sekarang dari produksi 50 kg bisa meraup kebersihan sekitar Rp110.000 dari sebelumnya Rp220.000 per hari," katanya menjelaskan.

Siasat memperkecil ukuran produk juga harus diambil oleh pelaku usaha tempe agar tidak kehilangan konsumen. Yanto, seorang perajin tempe, mengaku dilematis karena tidak mungkin menaikkan harga jual di tingkat pelanggan.

"Kami memperkecil ukuran agar produksi tetap berjalan dan pekerja sebanyak three orang tidak dirumahkan," katanya menjelaskan.

Ketua Perajin Tahu Tempe Kabupaten Lebak, Liri, menegaskan perlunya intervensi dari pemerintah untuk mengatasi lonjakan harga kedelai impor yang kian melambung. Berdasarkan datanya, ada sekitar 550 pelaku usaha serupa di Lebak yang kini posisinya rentan gulung tikar.

"Kami ingin harga kedelai kembali normal dan mereka perajin bisa tumbuh dan berkembang juga menyerap tenaga kerja," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi