Harga Logam Industri Fluktuatif Dipicu Kekhawatiran Inflasi Global

Harga Logam Industri Fluktuatif Dipicu Kekhawatiran Inflasi Global

Harga logam industri bergerak sangat fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global dan tekanan di pasar obligasi dunia.

Tembaga, yang selama ini dianggap indikator penting kesehatan ekonomi global, ikut mengalami gejolak tajam, seperti dilansir dari Money.

Kontrak berjangka tembaga pengiriman Agustus di London Metal Exchange sempat turun 1,3 persen pada Selasa sebelum kembali naik 0,5 persen pada Rabu menjadi 13.477 dollar AS per ton atau sekitar Rp 238,4 juta per ton, dengan kurs Rp 17.687 per dollar AS.

Tembaga digunakan luas untuk kabel listrik, mesin industri, hingga pipa. Karena itu, pergerakan harganya sering dipakai pasar untuk membaca arah ekonomi global.

Harga aluminium, nikel, timah, dan seng juga bergerak naik turun dalam beberapa hari terakhir.

Gejolak tersebut terjadi bersamaan dengan volatilitas besar di pasar obligasi dan saham global.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi dalam beberapa dekade karena investor khawatir perang Iran akan menjaga harga energi tetap tinggi dan memperburuk inflasi.

Tekanan terhadap logam industri kini datang dari dua arah sekaligus, yakni permintaan global yang melemah dan gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.

Analis Macquarie menilai seng menjadi salah satu logam yang paling rentan terhadap perlambatan ekonomi global.

Sekitar 55 persen permintaan seng berasal dari sektor konstruksi.

Jika ekonomi global melambat dan pembangunan turun, konsumsi seng ikut berpotensi melemah tajam.

"Di sisi penawaran, biaya diesel, asam, dan bahan peledak yang lebih tinggi membebani margin, tetapi ini seharusnya tidak menjadi masalah pada harga logam saat ini," tulis analis Macquarie, seperti dilansir CNBC, Kamis (21/5/2026).

Mereka menambahkan harga energi di Eropa masih menjadi risiko besar bagi industri peleburan seng.

Namun hingga kini harga listrik di Eropa belum melonjak besar akibat perang Timur Tengah. Tekanan serupa juga terjadi di pasar aluminium.

Analis Senior Wood Mackenzie, Shashank Sriram, mengatakan pasar aluminium kini menghadapi kombinasi pasokan ketat dan permintaan yang lemah.

Aluminium menjadi bahan penting untuk industri elektronik, kendaraan, konstruksi, panel surya, hingga kemasan.

Sekitar 9 persen pasokan aluminium dunia berasal dari kawasan Teluk.

Masalah muncul karena banyak produsen aluminium di wilayah tersebut kesulitan mengekspor logam akibat Selat Hormuz belum sepenuhnya normal sejak perang Iran.

"Seiring berlanjutnya konflik, risiko pasokan semakin mengakar," kata Sriram kepada CNBC.

Menurut dia, meski Selat Hormuz kembali dibuka, pemulihan pasokan aluminium tidak akan langsung normal.

Gangguan pengiriman dan kerusakan fasilitas peleburan membuat pemulihan berlangsung bertahap.

Karena itu, Wood Mackenzie menilai harga aluminium masih sulit menembus 4.000 dollar AS per ton dalam waktu dekat.

Tembaga Jadi Medan Tarik Menarik Pasar

Di antara seluruh logam industri, tembaga kini menjadi yang paling diperhatikan investor.

Analis Komoditas Macquarie, Alice Fox, mengatakan harga tembaga masih ditopang narasi jangka panjang terkait transisi energi dan keterbatasan pasokan tambang.

Namun pasar mulai khawatir terhadap dampak suku bunga tinggi dan perlambatan ekonomi global.

Kepala Riset Tembaga Wood Mackenzie, Charles Cooper, mengatakan harga tembaga saat ini berada dalam fase tarik menarik antara faktor makroekonomi dan kondisi fisik pasokan.

"Meskipun harga baru baru ini mencapai puncaknya mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di 14.500 dollar AS per ton, harga sekarang terkonsolidasi di bawah level tersebut," kata Cooper.

Menurut dia, harga tinggi membuat pembeli di China mulai berhati hati.

Di saat yang sama, pasar obligasi AS dan China bergerak sangat berbeda.

Di AS, ekspektasi inflasi membuat imbal hasil obligasi naik dan memperkuat dollar AS. Kondisi itu biasanya menekan harga komoditas.

Sebaliknya, imbal hasil obligasi pemerintah China justru mendekati titik terendah historis.

Situasi tersebut mencerminkan lemahnya sektor properti dan manufaktur domestik China.

"Imbal hasil obligasi pemerintah China berada di dekat titik terendah historis, menandakan sektor manufaktur dan properti domestik yang lesu," ujar Cooper.

Pasokan Global Masih Terganggu

Selain tekanan ekonomi, pasar tembaga juga dibayangi gangguan pasokan global.

Produksi penuh tambang Grasberg di Indonesia, salah satu tambang tembaga terbesar dunia, ditunda hingga 2028 setelah longsor lumpur mematikan pada 2025.

Tambang Kamoa Kakula di Republik Demokratik Kongo juga sempat terdampak banjir.

Tambang El Teniente di Chile mengalami kecelakaan operasional tahun lalu.

Cooper mengatakan pasokan fisik tembaga global masih terganggu akibat penimbunan di AS setelah kebijakan tarif sebelumnya.

Akibatnya, pasokan yang tersedia untuk pasar global menjadi lebih terbatas.

Meski begitu, permintaan jangka panjang terhadap tembaga masih dinilai kuat.

Ekspansi jaringan listrik, kendaraan listrik, dan pembangunan pusat data AI tetap menjadi faktor pendukung utama.

Namun Cooper mengingatkan sebagian optimisme pasar mungkin terlalu cepat.

"With latar belakang kondisi makro yang lebih lemah dan persediaan yang tinggi, ini menunjukkan bahwa pasar mungkin memperhitungkan sebagian dari cerita jangka panjang lebih awal," katanya.

Wood Mackenzie memperkirakan harga tembaga dalam jangka pendek masih bergerak fluktuatif di kisaran 13.200 sampai 13.800 dollar AS per ton.

Menurut mereka, kenaikan lebih lanjut membutuhkan dua syarat utama, yakni stabilisasi pasar obligasi global dan pemulihan aktivitas industri China yang lebih jelas.

Artikel terkait

Rekomendasi