Harga minyak mentah global mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dinyatakan gagal. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia melalui jalur strategis Selat Hormuz.
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir dari Suara, harga minyak Brent berjangka melonjak sebesar USD 3,18 atau setara 3,14 persen ke level USD 104,47 per barel. Kenaikan tajam ini terpantau terjadi pada pukul 06.36 WIB sebagai respons atas meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan serupa terjadi pada komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat yang naik USD 3,09 atau 3,24 persen menjadi USD 98,51 per barel. Penolakan resmi Presiden Donald Trump terhadap draf perdamaian yang diajukan Iran menjadi pemicu utama pesimisme pasar energi internasional.
Presiden Trump menegaskan posisinya dengan menyebut draf usulan Teheran sebagai dokumen yang "tidak dapat diterima," sehingga memperburuk situasi keamanan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut kini mengalami gangguan hebat yang menghambat arus distribusi minyak mentah ke berbagai negara.
Kepala Eksekutif Saudi Aramco, Amin Nasser, mengungkapkan bahwa ketegangan selama dua bulan terakhir telah menyebabkan hilangnya pasokan global dalam jumlah yang sangat besar.
"dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel pasokan minyak selama dua bulan terakhir akibat eskalasi ini" kata Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.
Pihak Saudi Aramco juga memproyeksikan bahwa proses normalisasi pasar memerlukan durasi yang cukup lama meskipun nantinya akses pelayaran kembali dibuka secara penuh.
"pemulihan pasar akan memakan waktu lama meskipun jalur pelayaran nantinya dibuka kembali" ujar Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.
Para pelaku pasar saat ini sedang memantau rencana kunjungan kenegaraan Presiden Trump ke Beijing untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping. Diplomasi ini diharapkan dapat menekan Iran agar bersedia melakukan gencatan senjata demi mengamankan kembali jalur perdagangan minyak dunia.
"Perhatian pasar saat ini beralih sepenuhnya pada kunjungan Presiden Trump ke China" kata Tony Sycamore, analis pasar dari IG.
Di sisi lain, laporan dari penyedia data pelacakan kapal Kpler menunjukkan adanya aktivitas pengiriman minyak secara rahasia untuk menghindari risiko keamanan. Tercatat dua kapal tanker mematikan sistem pelacak sinyal otomatis saat melintasi wilayah Selat Hormuz guna menghindari potensi serangan militer.