Harga Minyak Dunia Anjlok Imbas Sinyal Kesepakatan Damai AS dan Iran

Harga Minyak Dunia Anjlok Imbas Sinyal Kesepakatan Damai AS dan Iran

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Penurunan ini memperpanjang tren negatif pasar setelah munculnya laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di antara kedua negara.

Dilansir dari Money, tolok ukur minyak mentah internasional Brent merosot hingga 8,2 persen ke posisi 100,83 dollar AS per barrel pada pukul 06.43 waktu AS. Pelemahan ini menunjukkan respons pasar yang signifikan terhadap dinamika geopolitik terbaru.

Kondisi serupa terjadi pada harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS yang anjlok sebesar 9,8 persen menjadi 92,28 dollar AS. Sebelumnya, kedua acuan harga minyak ini telah ditutup lebih rendah sekitar 3,9 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Gedung Putih dikabarkan sedang mematangkan nota kesepahaman satu halaman yang berisi 14 poin utama. Dokumen tersebut dirancang untuk menghentikan perang sekaligus menjadi kerangka kerja bagi pembicaraan nuklir yang lebih mendalam di masa depan.

Pihak AS dilaporkan menanti respons Iran terhadap beberapa poin krusial dalam kurun waktu 48 jam ke depan. Meski belum ada kesepakatan final, sejumlah sumber menyebutkan ini merupakan titik terdekat Washington dan Teheran menuju perdamaian sejak konflik pecah pada 28 Februari.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memberikan pernyataan terkait perkembangan ini. Beliau menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan evaluasi terhadap proposal perdamaian 14 poin yang diajukan oleh Washington, sementara pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi.

"Iran hanya akan menerima kesepakatan damai yang adil," ujar pihak Iran pada hari Rabu tersebut.

Sebelumnya, pada Selasa (5/5/2026), Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social mengumumkan penghentian sementara Proyek Kebebasan. Program militer ini sejatinya baru diluncurkan sehari sebelumnya untuk mengawal kapal komersial di Selat Hormuz.

Penghentian tersebut diputuskan dengan alasan adanya kemajuan positif dalam proses negosiasi menuju kesepakatan akhir. Pemerintahan Trump mencatat sekitar 23.000 pelaut dari 87 negara sempat terdampar di Teluk Persia akibat penutupan efektif selat tersebut oleh Iran.

Kepala Strategi Komoditas Bank Belanda ING, Warren Patterson, menekankan pentingnya kesepakatan yang mampu menormalkan kembali aliran minyak di Selat Hormuz. Hal ini dikarenakan gangguan pasokan sekitar 13 juta barrel per hari saat ini hanya diimbangi oleh stok cadangan yang kian menipis.

"Hal ini membuat pasar semakin rentan setiap harinya. Stok yang semakin ketat hanya akan membuat pasar minyak bergejolak dengan cara yang semakin tidak menentu," kata Warren Patterson.

Di sisi lain, Kepala Divisi Pendapatan Tetap Azimut Group, Nicolo Bocchin, memberikan peringatan mengenai dampak lonjakan biaya energi terhadap permintaan global. Menurutnya, pemulihan perdagangan tetap membutuhkan waktu meski jalur perairan nantinya telah dibuka kembali.

"Bahkan jika jalur air dibuka kembali, normalisasi arus pengiriman dan perdagangan masih akan memakan waktu berminggu-minggu," ujar Nicolo Bocchin.

Artikel terkait

Rekomendasi