Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Optimisme Damai Amerika Serikat dan Iran

Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Optimisme Damai Amerika Serikat dan Iran

Harga minyak dunia mengalami penurunan drastis pada akhir perdagangan Rabu (6/5/2026) waktu setempat. Pelemahan ini dipicu oleh munculnya harapan baru mengenai potensi deeskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Sentimen pasar terpengaruh oleh kabar bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya mencapai kesepakatan damai awal. Hal ini memberikan tekanan besar terhadap nilai jual komoditas energi tersebut.

Dilansir dari Money, harga minyak mentah Brent tercatat anjlok sebesar 8,60 dollar AS atau setara 7,83 persen ke level 101,27 dollar AS per barrel. Dalam sesi perdagangan tersebut, Brent bahkan sempat menyentuh angka di bawah 100 dollar AS per barrel.

Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS. Komoditas ini mengalami koreksi sebesar 7,19 dollar AS atau 7,03 persen, sehingga harganya kini berada di posisi 95,08 dollar AS per barrel.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa kedua negara sedang mematangkan memorandum saling pengertian. Pakistan yang bertindak sebagai mediator menyatakan bahwa proses negosiasi tersebut kini semakin mendekati titik temu yang konkret.

Pihak Iran mengonfirmasi bahwa mereka tengah melakukan peninjauan terhadap proposal terbaru yang diajukan oleh Gedung Putih. Respons resmi dari Teheran diperkirakan akan segera disampaikan melalui jalur diplomasi di Pakistan.

"Ada keyakinan yang terus tumbuh bahwa peluang Selat Hormuz kembali dibuka semakin besar, terlepas apakah nantinya tercapai kesepakatan damai permanen dengan Iran atau tidak," ujar Analis senior Price Futures Group Phil Flynn.

Meskipun pasar merespons positif kabar damai tersebut, laju penurunan harga minyak sempat terganjal pernyataan otoritas tertinggi AS. Presiden Donald Trump menyebut pembicaraan mengenai pertemuan langsung dengan pihak Teheran masih terlalu dini.

Di sisi lain, anggota senior parlemen Iran memberikan catatan kritis terhadap draf yang diajukan Washington. Ia menilai isi proposal tersebut masih jauh dari kenyataan dan lebih condong pada daftar keinginan sepihak.

Situasi di lapangan menunjukkan militer AS telah mengambil tindakan tegas dengan menghancurkan beberapa kapal kecil milik Iran. Langkah ini diklaim sebagai upaya untuk mempermudah navigasi kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.

Kepala Analis Minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, memberikan pandangannya mengenai dampak pasar. Ia menilai potensi tercapainya kesepakatan sudah cukup untuk menekan pergerakan kontrak berjangka minyak dunia.

"Pengumuman kesepakatan akan langsung mendorong kontrak berjangka bergerak lebih jauh. Bahkan potensi tercapainya kesepakatan saja sudah memicu penurunan harga minyak," kata Paola Rodriguez-Masiu.

Namun, Paola juga mengingatkan bahwa normalisasi arus distribusi minyak global tidak akan terjadi secara instan. Pemulihan logistik pasokan tetap memerlukan waktu meskipun jalur pelayaran strategis tersebut dibuka kembali.

Sejak ketegangan memuncak pada Februari lalu, gangguan di Selat Hormuz telah menggerus cadangan bahan bakar global. Hal ini sempat mendorong harga minyak ke level tertinggi sebelum akhirnya mengalami koreksi pada pekan ini.

Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menambahkan bahwa kesepakatan parsial sekalipun sudah memiliki dampak positif. Menurutnya, hal itu cukup untuk memulihkan aktivitas pelayaran secara bertahap di kawasan Selat Hormuz.

Artikel terkait

Rekomendasi