Lonjakan Harga Minyak Dunia Mengerek Harga BBM dan Menekan Rupiah

Lonjakan Harga Minyak Dunia Mengerek Harga BBM dan Menekan Rupiah

Fluktuasi pasar energi global yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia di atas 100 dolar AS per barel menekan nilai tukar rupiah hingga merosot ke level Rp17.706 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026).

Kondisi eksternal tersebut diperparah oleh penyusutan cepat persediaan minyak komersial akibat konflik di Timur Tengah, meskipun pelepas cadangan strategis sebesar 2,5 juta barel per hari telah dilakukan sejak Maret 2026. Di dalam negeri, situasi ini langsung berdampak pada penyesuaian harga komoditas bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di berbagai SPBU yang terpantau melonjak tinggi, terutama pada jenis diesel.

Berdasarkan data resmi per 19 Mei 2026, harga solar non-subsidi di wilayah Jawa seperti Pertamina Dex kini menyentuh Rp27.900 per liter dan Dexlite di Rp26.000 per liter, sementara produk premium swasta seperti Shell V-Power Diesel dan Diesel Primus Vivo bertengger di angka Rp30.890 per liter. Untuk jenis bensin, Pertalite bertahan di Rp10.000 per liter, Pertamax berada di level Rp12.300 per liter, sedangkan BP Ultimate dijual Rp12.930 per liter.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk lonjakan harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

"Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) akan diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dolar," ujar Rully Nova sejalan dengan rilis kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang ikut melemah ke Rp17.719 per dolar AS dari hari sebelumnya sebesar Rp17.666.

Defisit pasokan global kian melebar lantaran ancaman volatilitas energi di Selat Hormuz berbarengan dengan penurunan minat investor asing terhadap obligasi Indonesia akibat kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi baru di angka 4,631 persen.

"Dengan asumsi kurs di APBN Rp16.500 maka tambahan subsidi Rp150 triliun dengan kurs yang terus meningkat dan tidak ada kenaikan BBM subsidi," kata Rully Nova saat memaparkan estimasi beban fiskal negara jika harga BBM bersubsidi tidak disesuaikan.

Di tengah ketidakpastian pasar finansial, para pelaku ekonomi nasional kini sedang mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diproyeksikan akan mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna meredam laju depresiasi mata uang domestik.

"Pelemahan rupiah selain karena kebutuhan dolar musiman, saat ini juga dipengaruhi oleh minat pelaku pasar asing yang menurun terhadap obligasi pemerintah sejalan dengan selisih yield yang menipis dibanding dengan obligasi pemerintah AS," ujar Rully Nova menutup analisisnya terkait pergerakan modal keluar.

Artikel terkait

Rekomendasi