Harga minyak dunia mengalami penurunan sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu (20/5/2026) setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai peluang penyelesaian konflik dengan Iran dalam waktu dekat.
Penurunan nilai komoditas energi global ini dilansir dari Money, yang mencatat pelemahan harga terjadi di tengah pemantauan ketat para pelaku pasar terhadap perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Berdasarkan data perdagangan komoditas, harga minyak mentah Brent merosot sebesar 1,11 dollar AS atau 1 persen menjadi 110,17 dollar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,12 dollar AS atau 1,1 persen menuju level 103,03 dollar AS per barel.
Kondisi pasar yang mulai memperhitungkan dampak positif dari potensi kesepakatan diplomatik kedua negara tersebut menjadi penyebab utama terjadinya koreksi harga.
“Namun harga masih berpotensi bergerak naik karena pasokan minyak diperkirakan tidak akan langsung kembali ke level sebelum perang, meskipun kesepakatan tercapai,” kata Emril Jamil, Analis riset minyak senior LSEG.
Sebelumnya, tekanan terhadap sektor energi ini juga telah terindikasi sejak perdagangan Selasa (19/5/2026) setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan adanya kemajuan komunikasi guna menghindari pecahnya konflik militer lanjutan.
“Pasar masih menilai arah kebijakan Washington yang berubah cepat dari hari ke hari,” ujar Toshitaka Tazawa, Analis Fujitomi Securities.
Tazawa menambahkan bahwa nilai jual minyak berisiko tetap tinggi mengingat potensi eskalasi militer AS ke wilayah Iran masih terbuka dan pemulihan distribusi energi global diproyeksikan memakan waktu.
Di sisi lain, Trump juga sempat mengindikasikan opsi penyerangan ulang tetap tersedia jika proses negosiasi yang dipicu oleh proposal baru dari Teheran terkait penghentian konflik AS-Israel menemui jalan buntu.
Lembaga keuangan Citi memperkirakan harga minyak Brent berpotensi melonjak hingga 120 dollar AS per barel dalam jangka pendek karena pasar dinilai kurang mengantisipasi risiko kemacetan distribusi jangka panjang di Selat Hormuz.
Saat ini, pemulihan volume kapal tanker yang melintasi jalur strategis Teluk Persia tersebut masih di bawah level normal, meskipun dua kapal tanker besar dilaporkan mulai bergerak keluar pada Rabu.
Guna mengatasi defisit energi global, cadangan komersial dan strategis mulai dimanfaatkan secara intensif, di mana persediaan minyak mentah domestik AS tercatat menyusut selama lima pekan berturut-turut menurut data American Petroleum Institute (API).
Survei Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS kembali terpangkas sekitar 3,4 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 15 Mei 2026, dengan rilis data resmi pemerintah dijadwalkan menyusul pada Rabu waktu setempat.