Harga Minyak Dunia Melemah Sepekan di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Harga Minyak Dunia Melemah Sepekan di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Pasar minyak global mencatatkan penurunan harga mingguan lebih dari 6 persen hingga penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026) di tengah spekulasi jeda ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun sempat mengalami lonjakan harian akibat eskalasi serangan udara, optimisme akan adanya solusi diplomatik di Selat Hormuz meredam kekhawatiran para pelaku pasar.

Data yang dilansir dari Reuters menunjukkan kontrak berjangka minyak Brent berakhir di level USD 101,29 per barel, atau mengalami kenaikan harian sebesar 1,23 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup pada posisi USD 95,42 per barel setelah menguat 61 sen atau 0,64 persen di hari yang sama.

Kendati menguat di akhir pekan, kedua patokan harga tersebut tetap berakhir lebih rendah secara signifikan dibandingkan posisi pembukaan awal pekan. Kondisi ini dipicu oleh penantian pasar terhadap langkah konkret untuk mengakhiri konflik yang telah mengganggu jalur pelayaran vital di Teluk Arab.

Mitra di Again Capital, John Kilduff, menilai pasar saat ini berada dalam titik jenuh akibat ketidakpastian yang berulang terkait pertempuran dan diplomasi.

"Kita berada di ambang terobosan dalam negosiasi atau kita berada di ambang pembaruan pertempuran. Kita sudah sering berada di situasi ini. Ada perasaan di pasar bahwa akan ada kesepakatan dan kita akan memasuki fase berikutnya, yaitu 30 hari untuk merundingkan kesepakatan (antara Iran dan AS)," kata John Kilduff, mitra di Again Capital.

Situasi di lapangan menunjukkan pasukan AS dan Iran masih terlibat bentrok di kawasan Teluk, sementara Uni Emirat Arab kembali mendapat serangan. Washington saat ini sedang menunggu tanggapan resmi dari Teheran atas proposal perdamaian guna mengakhiri rangkaian konflik yang bermula sejak akhir Februari 2026.

Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan pada hari Kamis bahwa gencatan senjata masih berlaku untuk meredakan situasi. Namun, pada hari Jumat, ia kembali mengeluarkan tuntutan agar Iran menghentikan ambisi nuklirnya sebagai syarat penyelesaian konflik.

Analis PVM Oil Associates, John Evans, menyoroti beberapa faktor fundamental yang belum bisa terselesaikan tanpa adanya kesepakatan permanen kedua belah pihak.

"Seberapa cepat pasokan dapat dikembalikan dari negara-negara Teluk, bagaimana keadaan persediaan saat kita mendekati puncak musim bensin, dan seperti apa sanksi setelah penyelesaian konflik, semuanya layak untuk dipikirkan. Tetapi tidak satu pun yang dapat ditangani sampai ada solusi jangka panjang untuk permusuhan," kata John Evans, analis PVM Oil Associates.

Di sisi lain, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS sedang melakukan investigasi terhadap transaksi minyak senilai USD 7 miliar yang mencurigakan. Transaksi tersebut dilaporkan terjadi sesaat sebelum pengumuman kebijakan penting terkait Iran oleh Presiden Trump.

Penyelidikan berfokus pada penempatan posisi jual di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME). Langkah tersebut diduga sebagai upaya mencari keuntungan dari penurunan harga sesaat sebelum pernyataan Trump mengenai penundaan serangan atau gencatan senjata dipublikasikan.

Artikel terkait

Rekomendasi