Harga Minyak Dunia Melonjak 3 Persen Imbas Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Melonjak 3 Persen Imbas Konflik Timur Tengah

Harga minyak dunia melonjak sekitar 3 persen dan menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir pada akhir perdagangan Senin waktu setempat. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah.

Seperti dikutip dari Money, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli meroket 2,84 dollar AS atau 2,6 persen ke level 112,10 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni melonjak 3,24 dollar AS atau 3,1 persen menjadi 108,66 dollar AS per barrel.

Angka penutupan ini menjadi catatan tertinggi bagi Brent sejak 4 Mei 2026. Bagi minyak WTI, nilai tersebut merupakan yang tertinggi sejak 7 April 2026.

Kenaikan harga ini terjadi seiring kekhawatiran pasar global terhadap potensi hambatan distribusi minyak akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini tetap terjadi meskipun muncul laporan mengenai kesediaan AS melonggarkan sanksi minyak Iran selama negosiasi.

Setelah perdagangan ditutup, laju kenaikan harga sempat mereda. Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penundaan serangan terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada hari Selasa.

Pada pekan sebelumnya, kedua kontrak minyak tersebut telah melonjak lebih dari 7 persen menyusul memudarnya harapan perdamaian. Pasar mengkhawatirkan penutupan berkepanjangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi 20 persen pasokan minyak dunia.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengungkapkan bahwa persediaan minyak komersial dunia merosot dengan cepat. Dampak konflik dan penutupan Selat Hormuz menjadi penyebab utama situasi tersebut.

"Persediaan minyak komersial menyusut dengan cepat, dan yang tersisa hanya cukup untuk beberapa pekan," ujar Birol.

Fatih Birol menambahkan bahwa pelepasan cadangan strategis telah membantu menambah pasokan sekitar 2,5 juta barrel per hari ke pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa volume cadangan tersebut tetap terbatas.

Di sisi lain, analis dari perusahaan konsultan energi Ritterbusch and Associates melihat belum ada perubahan signifikan menuju solusi diplomatik antara AS dan Iran.

"Kami melihat kemajuan menuju solusi diplomatik untuk perang AS-Iran masih sedikit berubah dibanding pertengahan Maret lalu ketika harga WTI berada di kisaran saat ini,” tulis analis Ritterbusch dalam catatannya.

Upaya Diplomasi dan Risiko Ekonomi

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengabarkan bahwa AS disebut telah menyetujui penghapusan sanksi minyak Iran dalam proposal terbaru selama masa perundingan.

Sementara itu, Pakistan bertindak sebagai mediator dengan meneruskan proposal revisi dari Iran kepada AS guna mengakhiri perselisihan di Timur Tengah.

Seorang sumber Pakistan kepada Reuters menyebutkan bahwa kedua belah pihak tidak memiliki banyak waktu untuk memperkecil perbedaan pandangan mereka.

Terkait situasi ini, perusahaan riset Capital Economics mengeluarkan peringatan mengenai risiko pemburukan kondisi ekonomi global jika Selat Hormuz tidak segera dibuka dalam beberapa pekan ke depan.

Lembaga riset tersebut memproyeksikan kondisi ini dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi global dan memicu resesi ringan di sebagian Eropa. Dampak lainnya meliputi lonjakan inflasi hingga 5-6 persen di Inggris dan zona euro, serta mendorong kenaikan suku bunga oleh bank sentral utama termasuk The Fed.

Artikel terkait

Rekomendasi