Harga minyak dunia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Asia hari Jumat (22/5/2026). Sentimen ini muncul setelah pelaku pasar mulai meragukan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, seperti dilansir dari Money.
Proses negosiasi antara kedua negara tersebut dinilai belum membawa terobosan yang berarti. Sejumlah persoalan utama dikabarkan masih belum menemukan titik temu hingga saat ini.
Kenaikan harga minyak terjadi seiring dengan melonjaknya kekhawatiran pasar terhadap potensi hambatan pasokan global. Fokus utama tertuju pada ketidakpastian di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik nadi distribusi energi dunia.
Dikutip dari OilPrice, minyak mentah Brent kini berada di level 104,80 dollar AS per barrel atau berkisar Rp 1,85 juta per barrel. Nilai tersebut mengalami kenaikan sebesar 2,13 persen dari perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, varian minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) terkerek naik 1,70 persen. Komoditas ini menyentuh level 97,99 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,73 juta per barrel.
Lonjakan ini terjadi hanya selang satu hari setelah kedua acuan minyak global tersebut merosot sekitar 2 persen. Penurunan sebelumnya bahkan sempat menyentuh level terendah dalam kurun waktu hampir dua pekan.
Optimisme pasar terhadap kemajuan diplomatik dalam pembahasan AS-Iran sempat memicu pelemahan harga. Namun, situasi berbalik dengan cepat akibat sinyal yang saling bertolak belakang dari pihak-pihak terlibat.
"Belum ada kesepakatan yang tercapai," kata seorang sumber senior Iran kepada Reuters, meskipun kedua pihak disebut berhasil mempersempit sejumlah perbedaan pandangan.
Di pihak lain, terdapat sinyalemen positif yang ditangkap dari jalannya pembicaraan. Beberapa indikator menunjukkan adanya peluang komunikasi yang baik.
"Terdapat beberapa tanda positif dalam pembicaraan tersebut," ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Meski demikian, Rubio juga menegaskan setiap upaya Iran untuk membatasi akses di Selat Hormuz tidak dapat diterima.
Upaya untuk mematangkan kesepakatan permanen dilaporkan belum membuahkan hasil signifikan selama enam minggu masa gencatan senjata. Kondisi ini membuat pasar minyak terus bergerak fluktuatif.
Pergerakan harga merespons klaim kemajuan diplomatik secara sensitif sebelum akhirnya terkoreksi kembali. Hal itu terjadi akibat tidak adanya hasil nyata yang dapat dipegang oleh pelaku pasar.
Tekanan bagi para pelaku pasar global semakin diperberat oleh kondisi pasar minyak fisik yang kian ketat. Kenaikan harga energi ini mulai memicu kekhawatiran terkait tekanan inflasi di berbagai negara.
Biaya bahan bakar yang melambung tinggi mulai berdampak secara merantai pada sektor transportasi serta manufaktur. Laporan industri mengindikasikan persediaan minyak global menyusut dalam laju tercepat sepanjang sejarah.
Guna menahan dampak buruk dari lonjakan harga energi, beberapa negara kini mulai menerapkan kebijakan darurat. Fenomena ini membuktikan bahwa hambatan pasokan minyak telah bergeser dari isu geopolitik menjadi ancaman langsung bagi ekonomi riil.
Kekhawatiran pelaku pasar semakin dipertegas oleh pernyataan dari sektor hulu industri energi. Pemulihan jalur distribusi diperkirakan memerlukan waktu yang tidak sebentar.
"Arus penuh pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan baru dapat kembali normal pada kuartal I atau kuartal II 2027, bahkan jika konflik berhenti saat ini juga," kata Chief Executive Officer ADNOC Sultan Al Jaber.
Menyikapi situasi tersebut, Uni Emirat Arab (UEA) yang telah keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan Sekutunya (OPEC+) mengambil langkah taktis. Mereka secara agresif mendongkrak kapasitas ekspor minyak di luar jalur Hormuz.
Langkah itu diwujudkan melalui pembangunan jaringan pipa baru yang masif. Kebijakan ini diambil demi memangkas ketergantungan pada Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Selat Hormuz Menjadi Fokus Utama Pasar
Dalam jangka pendek, pembukaan kembali akses normal di Selat Hormuz dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar. Langkah ini dinilai krusial untuk meredakan ketegangan yang terjadi di pasar minyak dunia.
Investor dan pelaku pasar diprediksi akan terus memantau perkembangan jalur diplomasi AS-Iran. Di saat bersamaan, mereka juga mengantisipasi potensi eskalasi militer yang bisa memperburuk keadaan.
Selat Hormuz memegang peran sebagai salah satu jalur perdagangan energi paling vital di bumi. Gangguan skala kecil di wilayah tersebut dipastikan langsung memicu lonjakan harga minyak global karena besarnya volume logistik harian.
Ketidakpastian yang berlarut-larut membuat pasar energi menjadi sangat sensitif terhadap setiap dinamika politik maupun militer di Timur Tengah. Dampak kenaikan harga minyak dunia ini juga mengancam negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.
Tingginya harga minyak dunia berpotensi menguras biaya impor energi sekaligus memperparah inflasi domestik. Selain itu, sektor industri nasional yang bergantung pada bahan bakar dipastikan akan terkena imbasnya.
Pasar kini berada dalam posisi menunggu antara dua kepastian utama. Pilihan tersebut adalah tercapainya terobosan diplomasi yang damai atau justru memanasnya konfrontasi militer di Timur Tengah.