Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada akhir perdagangan Kamis (7/5/2026) seiring melunaknya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu optimisme pasar terhadap stabilitas pasokan energi global di Selat Hormuz.
Sebagaimana dilansir dari Money, penurunan nilai komoditas ini dipicu oleh kebijakan Arab Saudi dan Kuwait yang mencabut larangan penggunaan pangkalan militer serta ruang udara mereka oleh militer Amerika Serikat untuk operasi pengawalan kapal dagang.
Data pasar menunjukkan harga minyak mentah Brent merosot 1,21 dollar AS atau 1,2 persen ke level 100,06 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 27 sen menjadi 94,81 dollar AS per barrel.
Laporan dari Wall Street Journal mengindikasikan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sedang meninjau kembali "Project Freedom" untuk mengamankan jalur perdagangan vital tersebut setelah munculnya draf kesepakatan sementara dengan Teheran.
Analis SEB Research Ole Hvalbye menilai bahwa kepastian mengenai kesepakatan diplomatik akan menjadi faktor utama yang mampu menekan harga lebih rendah dalam waktu singkat.
"Kesepakatan yang terkonfirmasi kemungkinan akan membawa harga Brent kembali ke kisaran 80 dollar AS hingga 90 dollar AS per barrel dengan cepat," ujar Ole Hvalbye, Analis SEB Research.
Meskipun ada sentimen positif, ia mengingatkan pasar tetap rentan terhadap perubahan mendadak jika proses negosiasi mengalami kebuntuan atau beralih kembali ke tindakan militer.
"Jika pembicaraan gagal atau Trump kembali memilih serangan, harga bisa langsung melesat di atas 120 dollar AS per barrel," kata Ole Hvalbye, Analis SEB Research.
Menteri Energi AS Chris Wright mengungkapkan kondisi terkini dari sisi suplai, di mana Iran mulai mengurangi produksinya sebesar 400.000 barrel per hari karena keterbatasan kapasitas penyimpanan fisik.
Situasi keamanan di jalur laut tetap menjadi sorotan setelah media China Caixin melaporkan serangan terhadap kapal tanker milik perusahaan China di dekat Selat Hormuz pada Senin sebelumnya.
Krisis energi ini juga menjadi agenda utama dalam KTT ASEAN di Cebu, Filipina, di mana negara-negara Asia Tenggara mendesak penghentian permusuhan guna melindungi ekonomi kawasan yang sangat bergantung pada impor energi.