Harga Minyak Dunia Turun Tipis Setelah AS Nyatakan Kemajuan Negosiasi

Harga Minyak Dunia Turun Tipis Setelah AS Nyatakan Kemajuan Negosiasi

Harga minyak dunia melemah tipis pada akhir perdagangan Selasa (20/5/2026) waktu setempat setelah Amerika Serikat menyatakan terdapat kemajuan dalam perundingan damai dengan Iran. Penurunan ini menghentikan reli harga yang sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir akibat konflik Timur Tengah.

Pelemahan nilai komoditas ini dilansir dari Money melalui laporan Reuters. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli merosot sebesar 82 sen atau 0,73 persen menjadi 111,28 dollar AS per barrel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman Juni terpangkas 89 sen atau 0,82 persen ke posisi 107,77 dollar AS per barrel. Kontrak WTI yang lebih aktif untuk pengiriman Juli ditutup turun 23 sen menjadi 104,15 dollar AS per barrel.

Perkembangan positif di Washington menjadi pemicu utama koreksi harga pasar ini. Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa pihak Amerika Serikat dan Teheran mencatat kemajuan signifikan dalam pembicaraan terkait ketegangan di kawasan tersebut.

"Kami pikir kami telah membuat banyak kemajuan. Kami pikir pihak Iran ingin mencapai kesepakatan," ujar Vance kepada wartawan di Gedung Putih.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga memutuskan untuk menunda serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada Selasa. Kendati demikian, Trump memberikan penegasan bahwa militer negaranya tetap siap beroperasi kembali andai kesepakatan tersebut gagal dicapai.

Di sisi lain, situasi pasar masih menunjukkan respons waspada terhadap potensi disrupsi pasokan energi global. Para pelaku pasar mengamati dengan cermat dampak nyata dari konflik fisik yang memengaruhi jalur pelayaran krusial dunia.

"Kita masih kehilangan pasokan minyak dalam jumlah signifikan dan infrastruktur kawasan berada dalam ancaman. Kita hanya bisa menahan napas sampai tercapai kesepakatan atau justru muncul aksi militer baru," kata Kilduff, selaku Mitra Again Capital.

Kilduff menilai situasi pasar saat ini menghadapi dua opsi besar yang krusial bagi penentuan arah harga minyak ke depan. Ketegangan ini dilaporkan telah mengganggu Selat Hormuz, jalur logistik yang mendistribusikan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) mengategorikan hambatan logistik di Selat Hormuz sebagai gangguan pasokan minyak terbesar di dunia saat ini. Merespons situasi tersebut, media pemerintah Iran mengabarkan bahwa Teheran telah mengajukan proposal perdamaian baru yang memuat poin penghentian permusuhan di kawasan termasuk Lebanon, penarikan militer AS, serta kompensasi perang.

Namun, AS justru mengimbangi langkah diplomasi tersebut dengan penguatan sanksi ekonomi. Washington menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan penukaran valuta asing Iran, memblokir 19 kapal pengangkut petrokimia, dan menyasar entitas pengelola transaksi bank Iran.

Imbas pertempuran turut memukul sektor hilir di Asia, di mana kilang minyak pemerintah China memotong kapasitas pengolahan di atas 1 juta barrel per hari akibat penurunan margin profit dan masalah suplai. Data Energy Aspects memaparkan volume pemrosesan China turun menjadi 8,4 juta barrel per hari bulan ini, dari sebelumnya 8,6 juta pada April dan 9,5 juta pada Maret.

Disrupsi global diperparah oleh berhentinya operasional kilang minyak Ryazan di Rusia yang memegang 5 persen kapasitas nasional setelah dihantam drone Ukraina pekan lalu. Di pasar domestik AS, Departemen Energi merilis data penyusutan cadangan minyak strategis sebesar 9,9 juta barrel pada pekan lalu ke angka 374 juta barrel, rekor terendah sejak Juli 2024.

Artikel terkait

Rekomendasi