Nilai tukar minyak mentah global mengalami penurunan signifikan sekitar 4 persen pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026) waktu setempat. Kondisi ini dipicu oleh stabilitas gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berhasil meredam kekhawatiran pelaku pasar terkait gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Berdasarkan data yang dilansir dari Money, harga minyak mentah jenis Brent merosot sebesar 4,57 dollar AS menjadi 109,87 dollar AS per barrel. Penurunan sebesar 4 persen ini terjadi di tengah keberhasilan militer AS mengawal dua kapal dagang mereka melintasi wilayah krusial Selat Hormuz tanpa hambatan berarti.
Sejalan dengan itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkoreksi 4,15 dollar AS atau setara 3,9 persen hingga menyentuh level 102,27 dollar AS per barrel. Koreksi harga ini menghapus lonjakan 6 persen yang sempat terjadi pada hari sebelumnya akibat kecemasan pasar terhadap keamanan jalur logistik energi global.
| Jenis Minyak | Harga Penutupan (USD) | Penurunan (USD) | Persentase |
|---|---|---|---|
| Brent | 109,87 | 4,57 | 4% |
| WTI | 102,27 | 4,15 | 3,9% |
Analis dari perusahaan konsultan Ritterbusch and Associates menyatakan bahwa optimisme pasar terhadap kelanjutan damai antara Washington dan Teheran menjadi faktor utama penggerak harga. Selain itu, mereka melihat adanya aksi ambil untung setelah tren kenaikan tajam sebelumnya.
"Pasar kemungkinan mengalami aksi jual yang dipicu komentar optimistis dari pemerintahan Trump terkait berlanjutnya gencatan senjata dengan Iran," tulis analis Ritterbusch and Associates dalam catatannya.
Sementara itu, pihak berwenang di Washington menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz kini berada dalam kondisi aman. Penegasan ini muncul meskipun Uni Emirat Arab (UEA) sebelumnya melaporkan adanya potensi ancaman dari Iran.
"Ratusan kapal sedang mengantre untuk melintasi jalur perairan vital tersebut," ujar Hegseth, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan klaim dari pihak Teheran. Iran secara resmi membantah telah melakukan serangan terhadap Uni Emirat Arab serta menyangkal klaim keberhasilan kapal dagang melintasi perairan tersebut di bawah pengawalan militer.
Presiden AS Donald Trump merespons situasi ini dengan memberikan pernyataan tajam mengenai posisi tawar Iran yang dianggapnya semakin melemah di kancah internasional.
"Iran seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," kata Trump, Presiden AS Donald Trump.
Trump menambahkan bahwa kapabilitas pertahanan Teheran kini sudah tidak sekuat sebelumnya dalam menghadapi kekuatan militer global. Menurutnya, pemerintah Iran saat ini lebih cenderung mencari kesepakatan rahasia dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, pergerakan harga minyak ke depan juga akan dipengaruhi oleh data cadangan mingguan dari Energy Information Administration (EIA). Para pengamat memproyeksikan akan terjadi penarikan stok minyak mentah Amerika Serikat sebesar 3,3 juta barrel pada pekan pertama Mei ini.