Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (13/5/2026) dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Melemahnya harga komoditas energi ini juga dipengaruhi sikap waspada investor menjelang pertemuan diplomatik antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir dari Money, harga minyak jenis Brent merosot sebesar US$ 2,14 atau sekitar 2 persen hingga menyentuh level 105,63 dollar AS per barrel. Pada saat yang sama, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,16 dollar atau 1,14 persen ke posisi 101,02 dollar AS per barrel.
Sentimen negatif muncul setelah pejabat bank sentral AS memberikan sinyal terkait kebijakan moneter ketat guna menekan lonjakan inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Data indeks harga produsen (PPI) Amerika Serikat pada April menunjukkan kenaikan tertinggi dalam empat tahun terakhir, dibarengi pertumbuhan inflasi konsumen tahunan terbesar dalam tiga tahun.
Kenaikan suku bunga dikhawatirkan bakal meningkatkan beban pinjaman bagi sektor usaha dan konsumen, sehingga berpotensi menghambat laju ekonomi dan menurunkan permintaan energi global. Di tengah situasi tersebut, fokus pelaku pasar terbagi pada kunjungan kenegaraan Trump ke China yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis dan Jumat pekan ini.
Meskipun pasokan minyak AS dilaporkan mengalami penurunan yang melampaui ekspektasi analis, tekanan dari faktor makroekonomi tetap mendominasi pasar. Stok minyak mentah AS pekan lalu menyusut 4,3 juta barrel, sementara stok bensin berkurang 4,1 juta barrel.
Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins memberikan penegasan terkait arah kebijakan moneter bank sentral dalam merespons tekanan harga domestik.
"bank sentral AS masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum mereda." ujar Susan Collins, Presiden Federal Reserve Boston.
Penegasan tersebut disampaikan seiring dengan meningkatnya pengawasan Iran di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak global.
Analis energi melihat adanya ketidakpastian yang berkelanjutan terkait keseimbangan antara permintaan dan pasokan di pasar internasional.
"pasar minyak masih akan menghadapi kondisi pasokan yang ketat hingga akhir tahun ini." kata Janiv Shah, Analis Rystad Energy.
Pandangan tersebut muncul saat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) justru memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun 2026. Sementara itu, pihak Teheran melontarkan tuduhan terkait tindakan ilegal di wilayah Teluk Persia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyampaikan protes keras terkait penahanan warga negaranya oleh pihak asing.
"Kuwait menyerang kapal Iran secara ilegal dan menahan empat warga negaranya di Teluk Persia." tuduh Abbas Araqchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Pihak Iran mendesak pembebasan segera warga tersebut dan menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah responsif. Di sisi lain, Pemerintah Amerika Serikat memberikan kabar terbaru mengenai proses diplomasi dengan Teheran.
Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan status terkini mengenai pembahasan kesepakatan dengan pemerintah Iran.
"negosiasi dengan Iran masih menunjukkan perkembangan positif meskipun sebelumnya Trump menolak proposal terbaru Teheran karena dianggap tidak dapat diterima." kata JD Vance, Wakil Presiden AS.