Harga Komoditas Energi Dunia Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

Harga Komoditas Energi Dunia Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

Harga komoditas energi global mengalami lonjakan signifikan pada Selasa, 12 Mei 2026, setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu di tengah blokade de facto Selat Hormuz. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dan gas bumi internasional yang kian menipis.

Data perdagangan awal Asia menunjukkan minyak mentah Brent naik 0,29 persen menjadi USD 104,51 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat ke posisi USD 98,38. Dilansir dari kumparan.com, kenaikan ini mengikuti lonjakan harga sebesar 2,8 persen pada hari sebelumnya akibat perbedaan signifikan dalam proposal damai Washington dan Teheran.

Selain minyak, kenaikan harga juga melanda komoditas lain seperti timah yang melesat 3,4 persen menjadi USD 55.708 per ton di London Metal Exchange. Harga nikel tercatat naik 0,91 persen menjadi USD 19.253 per ton, sedangkan batu bara ICE Newcastle menguat 1,45 persen ke level USD 136,40 per ton.

Kepala Badan Jaringan Federal Jerman, Klaus Muller, memperingatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah akan berdampak langsung pada kenaikan harga gas bagi konsumen. Meskipun kontrak lama masih memiliki jaminan harga, kesepakatan baru diprediksi akan mengalami penyesuaian nilai yang lebih tinggi.

"Konsekuensi dari konflik atas Iran dirasakan oleh semua orang yang harus membeli gas di bursa," kata Mueller dalam sebuah wawancara dengan grup media RND.

Muller menjelaskan bahwa kenaikan harga kali ini kemungkinan tidak akan secepat lonjakan yang terjadi pada awal konflik Ukraina tahun 2022. Ia menambahkan bahwa sebagian besar rumah tangga di Jerman saat ini masih memiliki perlindungan harga setidaknya untuk 12 bulan ke depan.

"Akan tetapi, jika kontrak baru disepakati, maka harga bisa naik," kata Mueller.

Blokade Selat Hormuz menjadi titik kritis mengingat jalur ini mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari sebelum konflik meletus pada 28 Februari lalu. Ketegangan bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah melumpuhkan lalu lintas kapal tanker yang biasanya mencapai 70 unit setiap harinya di perairan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi