Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan peringatan keras mengenai kelanjutan konflik dengan Iran. Ketegangan geopolitik ini memicu kekhawatiran baru atas gangguan pasokan energi global di pasar internasional.
Kenaikan harga ini tercermin dalam data CNBC International yang menunjukkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melesat 3,08 persen ke angka US$95,42 per barel. Dilansir dari Market, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Juli juga terkerek naik 3,16 persen menjadi US$104,49 per barel.
Kondisi pasar semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menolak proposal balasan dari Iran. Proposal yang dikirim melalui Pakistan sebagai mediator tersebut dimaksudkan untuk menghentikan perselisihan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pernyataan Netanyahu dalam program “60 Minutes” CBS menekankan bahwa ancaman nuklir Iran masih menjadi fokus utama yang belum terselesaikan. Dia menegaskan pentingnya pembongkaran fasilitas pengayaan uranium dan penghentian kelompok proksi yang didukung oleh Teheran.
"Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, serta rudal balistik yang masih ingin mereka produksi...masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Pemimpin Israel tersebut juga memberikan indikasi mengenai langkah nyata yang mungkin diambil untuk mengamankan material nuklir tersebut dari wilayah Iran. Upaya koordinasi antara pihak Amerika Serikat dan Israel disebut menjadi kunci dalam tindakan di masa depan.
"Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, serta rudal balistik yang masih ingin mereka produksi...masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan respons tegas melalui media sosial pribadinya terkait dokumen negosiasi yang dia terima. Trump mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap poin-poin yang diajukan oleh pihak Iran dalam upaya resolusi konflik tersebut.
"Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai ‘perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima!" tulis Trump, Presiden Amerika Serikat.
Analisis dari Citigroup memproyeksikan bahwa tren kenaikan harga masih akan membayangi pasar jika kesepakatan antara kedua negara gagal tercapai. Namun, dampak kenaikan tersebut saat ini masih diredam oleh tingginya cadangan minyak strategis dan melemahnya permintaan di negara berkembang.
Meskipun ada fluktuasi, analis Citi mencatat bahwa kendali atas Selat Hormuz tetap menjadi faktor krusial yang dipegang oleh Iran dalam menentukan stabilitas jalur energi dunia.
"Kami memperkirakan rezim Iran akan mencapai kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz sekitar akhir Mei. Namun, kami masih melihat risiko bahwa jadwal tersebut mundur dan/atau pembukaan dilakukan secara parsial, yang berarti gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama," tulis analis Citi, Citigroup.