Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat (8/5/2026) dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk Persia. Ketidakpastian geopolitik ini membuat investor waspada meski upaya diplomasi untuk kesepakatan damai di Timur Tengah masih terus dipantau oleh para pelaku pasar global.
Nilai minyak jenis Brent mengalami penguatan sekitar 1 persen hingga menyentuh level 101 dollar AS per barrel dalam sesi perdagangan di Asia sebagaimana dilansir dari Money. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan pergerakan variatif di pasar saham global, di mana bursa Asia cenderung menguat karena sentimen positif dari sektor kecerdasan buatan (AI).
Situasi di Teluk Persia memanas setelah dilaporkan adanya bentrokan kembali antara pasukan AS dan Iran, serta serangan di Uni Emirat Arab (UEA) yang menguji ketahanan gencatan senjata. Kendati demikian, pasar tetap mencermati perkembangan terbaru mengenai kemungkinan pembukaan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz melalui kesepakatan sementara.
Global Market Strategist J.P. Morgan Asset Management, Kerry Craig, menjelaskan bahwa perhatian utama investor saat ini masih terbagi antara isu geopolitik dan performa fundamental ekonomi di Amerika Serikat.
"Fokus pasar masih pada kuatnya pendapatan perusahaan di AS," ujar Kerry Craig, Global Market Strategist J.P. Morgan Asset Management.
Pihaknya juga menyoroti bahwa pelaku pasar merespons positif adanya dialog antara kedua belah pihak yang bertikai demi mengamankan jalur perdagangan internasional di kawasan tersebut.
"Fokus pasar masih pada kuatnya pendapatan perusahaan di AS," ujar Kerry Craig, Global Market Strategist J.P. Morgan Asset Management.
Di sektor keuangan lainnya, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,9 persen, namun bursa Korea Selatan melalui indeks KOSPI masih menunjukkan ketangguhan. Saham produsen chip seperti Samsung dan SK Hynix menjadi penopang utama kenaikan mingguan yang signifikan di kawasan tersebut.
Sementara itu, di Inggris, perhatian tertuju pada hasil pemilu lokal yang menunjukkan penurunan dukungan terhadap Partai Buruh. Kondisi politik ini dinilai dapat memberikan tekanan tambahan pada pasar obligasi dan posisi Perdana Menteri Keir Starmer di mata investor internasional.
Ketidakpastian politik di Inggris menurut analisis dari ING dapat memicu pergeseran aliran modal ke negara lain.
Analisis ING menilai ketidakpastian politik berpotensi membuat investor global mencari alternatif investasi lain di luar Inggris.
Selain faktor geopolitik dan politik lokal, pasar kini tengah menantikan rilis data tenaga kerja non-farm payrolls AS untuk bulan April 2026. Konsensus ekonom memperkirakan adanya penambahan 62.000 lapangan kerja, sebuah penurunan dibandingkan realisasi bulan Maret yang mencapai 178.000 pekerjaan.