Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) menyusul langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menolak proposal balasan dari Iran. Keputusan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi durasi konflik di Timur Tengah yang diprediksi akan berlangsung lebih lama.
Mengutip laporan dari Ekonomi, data CNBC International menunjukkan harga minyak jenis Brent untuk kontrak Juli terangkat 0,30 persen menuju angka US$104,51 per barel. Tren serupa terjadi pada minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Juni yang menguat 0,31 persen ke level US$98,40 per barel.
Donald Trump memberikan keterangan kepada para jurnalis bahwa situasi gencatan senjata saat ini berada pada posisi yang sangat rentan. Beliau secara tegas melabeli proposal yang diajukan pihak Iran untuk mengakhiri pertikaian sebagai sebuah "omong kosong".
"I akan mengatakan gencatan senjata saat ini benar-benar berada di ambang kehancuran, seperti ketika dokter mengatakan kepada keluarga pasien bahwa peluang hidupnya tinggal 1%," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian di pasar energi global yang telah terdampak sejak dimulainya operasi militer pimpinan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sejak periode tersebut, lonjakan harga minyak Brent maupun WTI telah mencapai angka lebih dari 40 persen.
Lembaga keuangan Citi memberikan penegasan melalui catatan risetnya bahwa pergerakan harga minyak masih memiliki potensi volatilitas tinggi. Kenaikan harga diprediksi terus berlanjut apabila proses negosiasi antara Washington dan Teheran tetap menemui jalan buntu.
Henry Wilkinson, selaku Chief Intelligence Officer Dragonfly, memproyeksikan bahwa eskalasi konflik di wilayah tersebut masih sangat mungkin terjadi di masa depan. Wilkinson menilai Trump berpeluang memanfaatkan jalur diplomatik dengan meminta tekanan dari Presiden China Xi Jinping terhadap Iran.
Strategi tersebut kemungkinan akan dibahas dalam pertemuan antara delegasi China dan Amerika Serikat pada pekan ini. Di sisi lain, Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) mencatat China memegang peranan krusial karena memiliki cadangan minyak strategis terbesar secara global.
| Negara/Wilayah | Volume (Juta Barel) |
|---|---|
| China | 1.397 |
| Amerika Serikat | 413 |
| Jepang | 263 |
| OECD Eropa | 179 |
| Arab Saudi | 82 |
| Korea Selatan | 79 |
| Iran | 71 |
| Uni Emirat Arab | 34 |
| India | 21 |
Data EIA menunjukkan estimasi volume cadangan China melampaui gabungan stok strategis milik Amerika Serikat, Jepang, negara-negara OECD Eropa, hingga India. Secara keseluruhan, persediaan dari negara-negara tersebut mencakup sekitar 70 persen dari total volume minyak dunia yang tersimpan saat ini.