Warga Amerika Serikat mulai memperketat pengeluaran belanja akibat lonjakan harga minyak yang menguras anggaran rumah tangga untuk kebutuhan energi pada April 2026. Pergeseran pola konsumsi ini terjadi seiring dengan prioritas warga yang lebih memilih mengalokasikan uang mereka untuk membeli bensin.
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel nasional pada April 2026 hanya mengalami kenaikan sebesar 0,5 persen secara bulanan. Angka pertumbuhan ini tercatat melambat signifikan apabila dibandingkan dengan capaian bulan Maret yang mampu tumbuh hingga 1,6 persen.
Realisasi performa ritel tersebut juga berada di bawah ekspektasi para ekonom yang memproyeksikan pertumbuhan sebesar 0,6 persen, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Penurunan minat belanja paling tajam terlihat pada sektor-sektor yang dianggap tidak mendesak oleh masyarakat.
Sektor departemen store mengalami penurunan terdalam hingga 3,2 persen, diikuti oleh sektor furnitur yang merosot sebesar 2 persen. Penurunan juga merambah pada sektor ritel pakaian sebesar 1,5 persen serta dealer kendaraan bermotor yang terkoreksi tipis 0,5 persen.
Tekanan pada daya beli masyarakat dipicu oleh kenaikan harga bensin yang merupakan imbas dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Meskipun demikian, sektor tenaga kerja yang masih solid di Amerika Serikat tetap menjadi penyokong utama konsumsi rumah tangga di tengah melemahnya sentimen konsumen akibat inflasi.