Harga minyak mentah berjangka WTI melonjak mendekati 90 dolar AS per barel pada hari Kamis (28/5) setelah sempat terkoreksi sehari sebelumnya. Lonjakan komoditas energi ini dipicu oleh kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait beberapa isu kunci pengakhiran konflik, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Hambatan utama dalam perundingan tersebut bersumber dari tuntutan Teheran untuk mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz. Selain masalah pengawasan jalur pelayaran vital itu, Iran juga bersikeras untuk melestarikan program nuklir mereka.
Sikap keras Iran mendapat respons tegas dari pihak Washington yang menolak memberikan kelonggaran tanpa kesepakatan jelas. Pemerintah AS menyatakan tidak akan melonggarkan sanksi ekonomi sebelum poin-poin krusial disepakati.
Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali bahwa Washington tidak akan menerima apa yang ia sebut sebagai kesepakatan yang buruk, sambil menolak setiap pencabutan sanksi meskipun Iran menyerukan penghentian serangan dan konsesi ekonomi.
Di tengah kebuntuan diplomatik ini, pihak Teheran mengklaim telah menyusun rencana perdamaian sepihak. Televisi pemerintah Iran melaporkan adanya draf perjanjian tidak resmi yang bertujuan untuk menghentikan perang.
Pernyataan dari media penyiaran Iran tersebut langsung direspons negatif oleh otoritas keamanan Amerika Serikat. Gedung Putih menolak klaim tersebut sebagai "sebuah rekayasa sepenuhnya."
Meskipun terjadi ketegangan dan penolakan draf di antara kedua belah pihak, pergerakan harga minyak di pasar internasional menunjukkan tren tertentu dalam jangka pendek. Harga minyak tetap berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut di tengah harapan bahwa kedua pihak pada akhirnya dapat mengamankan perjanjian perdamaian dan membuka kembali Selat Hormuz.