Harga Pakan Ternak Naik Beruntun Tekan Peternak Rakyat

Harga Pakan Ternak Naik Beruntun Tekan Peternak Rakyat

Lonjakan harga pakan ayam yang terjadi secara bertahap sejak April 2026 mulai membebani para pelaku usaha peternakan rakyat di dalam negeri akibat gejolak ekonomi global. Kenaikan biaya produksi ini diprediksi akan terus berlanjut pada pekan depan menurut laporan peternak pada Minggu (10/5/2026).

Dilansir dari Money, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia Kusnan mengungkapkan bahwa sejumlah produsen besar telah memberikan informasi mengenai rencana penyesuaian harga baru dalam waktu dekat.

"Iya, harga pakan bulan ini akan mengalami kenaikan kembali setelah sebelumnya juga naik. Pabrik pakan sudah mengumumkan, Senin infonya akan naik lagi," ujar Kusnan.

Berdasarkan data yang dihimpun, harga pakan pada April 2026 telah meningkat sebesar Rp 200 per kilogram dan kembali naik dengan nominal yang sama pada Mei 2026. Salah satu produsen pakan berskala besar bahkan dilaporkan akan menambah kenaikan harga sebesar Rp 250 per kilogram.

"Khusus Comfeed katanya Mei ini akan naik lagi Rp 250. Pabrik pakan lain juga menghubungi saya, Senin depan naik lagi, hanya angkanya belum disampaikan," katanya.

Kusnan menjelaskan bahwa faktor utama pemicu kondisi ini adalah tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor sebesar 70 persen, termasuk jagung dan soybean meal. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS serta situasi geopolitik global turut memperburuk beban biaya impor tersebut.

"Begitu rupiah melemah, harga pakan langsung ikut terdampak. Kondisi geopolitik global juga menghantam biaya impor bahan baku nasional," ujarnya.

Selain masalah kurs, biaya logistik dan distribusi juga ikut membengkak akibat kenaikan harga solar industri dan bahan baku kemasan plastik. Kusnan menilai struktur industri yang didominasi pemain besar membuat peternak memiliki posisi tawar yang rendah dalam menghadapi kebijakan harga produsen.

"Pabrik pakan besar punya pricing power. Peternak tidak bisa menolak karena ayam harus tetap makan setiap hari," kata Kusnan.

Tekanan ekonomi ini semakin berat bagi peternak mandiri karena peningkatan biaya modal tidak diikuti dengan perbaikan harga jual ayam di tingkat peternak. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian bagi peternak rakyat saat memasuki masa panen.

"Kemarin saat seminar di Agrimat saya sampaikan, kenaikan pakan akan sangat memberatkan peternak rakyat. Peternak menanam ayam hari ini saat pakan naik, tetapi ketika panen belum tentu mendapatkan harga sesuai harapan," ujarnya.

Sebagai solusi jangka panjang, penguatan posisi peternak dalam rantai pasok industri unggas diusulkan melalui penerapan model closed loop system. Sementara itu, keluhan mengenai beban produksi juga datang dari wilayah Banten.

Peternak mandiri broiler asal Banten, Asep Saepudin, mencatat total kenaikan harga pakan dari April hingga awal Mei telah menyentuh angka Rp 400 per kilogram. Saat ini, harga jual ayam hidup masih tertahan di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram.

"Harga ayam masih berkisar Rp 20.000 sampai Rp 21.000 per kilogram di tingkat peternak. Itu masih di bawah HPP dan jauh dari harga acuan penjualan Rp 24.000," ujar Asep.

Situasi pasar diprediksi akan semakin sulit pada periode Juni dan Juli mendatang karena adanya potensi penurunan daya beli masyarakat selama masa Idul Adha dan bulan Muharam. Data lapangan menunjukkan harga jagung telah mencapai Rp 7.000 per kilogram, sedangkan soybean meal berada di angka Rp 8.700 per kilogram.

"Setiap tahun harga ayam biasanya tidak bagus di bulan itu karena daya beli turun," katanya.

Industri peternakan kini menantikan langkah konkret dari pemerintah untuk mengevaluasi struktur harga pakan dan menstabilkan harga jual di pasar. Harapan tersebut ditekankan guna menjaga keberlangsungan usaha peternak mandiri di tengah tekanan biaya.

"Peternak berharap pemerintah ikut menjaga harga jual dan mengevaluasi penyebab kenaikan harga pakan," tegasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi