Harga Pangan Melonjak Pedagang Pasar Waru Keluhkan Penurunan Omzet

Harga Pangan Melonjak Pedagang Pasar Waru Keluhkan Penurunan Omzet

Lonjakan harga berbagai bahan pangan pasca-Lebaran 2026 memicu penurunan volume belanja konsumen di Pasar Waru, Lagoa, Koja, Jakarta Utara. Berdasarkan laporan dari Megapolitan, kondisi tersebut memaksa para pembeli memangkas kuantitas belanjaan mereka demi menyiasati pengeluaran yang membengkak.

Pedagang bumbu di Pasar Waru, Hendri (45), mengungkapkan bahwa penurunan omzet dagangannya sangat terasa karena hampir seluruh komoditas mengalami kenaikan harga secara bersamaan. Situasi ini memicu keluhan dari para ibu rumah tangga yang merasa daya beli mereka semakin tertekan.

"Penurunan tetap ada. Ya kalau dari kapasitas ya. Seharusnya orang belanjanya sekilo, jadi beli setengah. Jadi dalam istilah pengurangan volume belanjanya dikurangin," ungkap Hendri saat ditemui Kompas.com, Jumat (22/5/2026).

Hendri menambahkan bahwa ketidakberdayaan konsumen terlihat jelas saat mereka mengeluhkan nilai mata uang yang kian merosot di pasar.

"Sekarang ini pokoknya rata-rata bahan, harga barang ini tinggi semua," kata Hendri.

Menurut pengakuannya, besaran pendapatan bulanan konsumen kini sudah tidak ideal lagi untuk memenuhi kebutuhan pokok harian.

"Apalagi kalau kita hitung-hitung untuk ibu-ibu rumah tangga. Waduh yang pendapatan bulanan. Ini bukan menjerit-jerit lagi nih," ucap Hendri.

Bahkan, Hendri kerap mendengar keluhan langsung mengenai ketidakcukupan uang belanja harian yang dibawa oleh para pelanggannya.

"Apa mereka bilang, 'belanja ke pasar duit Rp 100.000 aja enggak cukup' katanya. Itu bahasa mereka. Rp 100.000 aja satu hari. Rp 100.000 ukuran orang sekarang Rp 100.000 mau dapet apa?" lanjut Hendri.

Kondisi serupa merugikan sektor penjualan sayur yang mengalami penurunan kuantitas distribusi barang harian secara signifikan.

"Kita belinya mahal, tapi lakunya enggak ada," ujar Jaelani (40), seorang pedagang sayur kepada Kompas.com, Jumat.

Jaelani memaparkan bahwa basis pelanggannya yang mayoritas merupakan pelaku usaha kuliner kecil kini memperjarang aktivitas belanja mereka.

"Kalau dianya sepi enggak jalan, jadi berarti ngurangin belanjanya. Aturan belanja tiap hari, jadi dua hari sekali belanja," kata Jaelani.

Untuk mengantisipasi kerugian akibat barang yang tidak terjual, Jaelani memutuskan untuk memotong pasokan dagangannya.

"Sekarang ya dikurangin aja stoknya, masih sisa aja," ujar Jaelani.

Penurunan volume penjualan sayur di lapak miliknya mencapai sekitar 40 hingga 50 persen dari kapasitas normal harian.

"Biasa habis ibaratkan 50 kilo, sekarang cuma habis paling 30, 25," tutur Jaelani.

Para pelaku usaha mikro di pasar tersebut sangat mengharapkan adanya langkah stabilisasi harga dari pihak terkait agar iklim perdagangan kembali pulih.

"Harapannya mah ya murah lagi, stabil lagi, normal lagi," tambah Jaelani.

Artikel terkait

Rekomendasi