Harga perak diperdagangkan di atas US$ 77 per ons troi pada Selasa (26/5), setelah mengalami lonjakan hampir 4% pada hari sebelumnya. Penguatan komoditas ini didorong oleh indikasi bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin mendekati kesepakatan damai. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dikutip dari Investasi, negosiasi antara Washington dan Teheran dilaporkan berpusat pada perpanjangan gencatan senjata selama kurang lebih dua bulan. Selama periode tersebut, AS berencana mencabut blokade ekonomi, sementara Iran akan mengizinkan kembali aktivitas pengiriman kapal melalui Selat Hormuz.
Meskipun demikian, hambatan besar dalam proses diplomasi ini masih ada. Tantangan utama terutama berkaitan dengan program nuklir Iran serta desakan negara tersebut untuk tetap mempertahankan kendali atas lalu lintas maritim di jalur strategis itu.
Di sisi lain, harga minyak justru dilaporkan turun tajam. Penurunan harga minyak ini berhasil meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait tekanan inflasi global dan prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral.
Terlepas dari pemulihan harga yang terjadi baru-baru ini, harga perak tercatat masih turun sekitar 17% sejak awal konflik dimulai. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran akan guncangan inflasi yang didorong oleh sektor energi, yang kemudian memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.