Lonjakan harga perlengkapan rumah tangga secara signifikan melanda Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, akibat gangguan rantai pasok dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis (21/5/2026).
Kenaikan harga komoditas perabot tersebut bervariasi bergantung pada jenis serta bahan baku, dengan produk berbahan dasar plastik mencatatkan kenaikan paling tinggi. Fenomena ini dipicu oleh depresiasi mata uang rupiah yang saat ini menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Pedagang perabot di Pasar Jatinegara, Anggi, mengungkapkan bahwa pergeseran harga barang-barang tersebut telah berlangsung selama satu bulan terakhir.
"Panci aluminium yang dulunya Rp 100.000 sekarang Rp 135.000, semuanya naik. Kalau gelas yang dulu Rp 30.000, sekarang Rp 40.000. Cuma kalau barang plastik itu yang lebih tinggi lagi naik harganya. Kayak gelas plastik yang biasa Rp 10.000 sekarang sudah Rp 25.000, lebih dari dua kali lipat," ujarnya saat ditemui detikcom, Kamis (21/5/2026).
Ia menambahkan bahwa kenaikan drastis juga terjadi pada produk wadah penyimpanan barang dan stoples.
"Box plastik yang biasanya Rp 80.000 sekarang jadi Rp 120.000-130.000. Kenaikan paling tinggi memang barang plastik. Toples-toples buat kerupuk yang biasanya Rp 10.000, sekarang sudah Rp 20.000," sambung Anggi.
Lonjakan harga pada tahun ini tercatat sebagai yang tertinggi selama kurun waktu 14 tahun dirinya berdagang di pasar tersebut.
"Baru kali ini naik setinggi ini, dua kali lipat. Ini bukan sekadar naik lagi, tapi sudah ganti harga. Kalau dulu kenaikan bukan karena biaya produksi naik, tapi karena barang lagi ramai saja, biasanya naik Rp 3.000-5.000, habis itu turun lagi," terang Anggi.
Menurut penjelasannya, situasi tidak biasa terjadi karena produk lokal mengalami lonjakan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produk impor asal China.
"Sebenarnya kalau produk-produk dalam negeri memang naiknya benar-benar tinggi. Beda sama barang impor dari China. Barang China masih relatif, masih bisa kita jual," jelasnya.
Anggi mencontohkan harga peralatan memasak berbahan aluminium lokal yang kini melampaui harga perabot berbahan baja nirkarat impor.
"Kayak yang bahan aluminium itu produksi dalam negeri, naiknya gila-gilaan. Bahkan lebih mahal daripada stainless steel. Kalau stainless impor dari China, panci yang dulu Rp 100.000 jadi Rp 105.000 saja, nggak banyak. Teko listrik yang dulu Rp 65.000 sekarang Rp 70.000," lanjut Anggi.
Kondisi tersebut terjadi lantaran barang impor China hanya terimbas penyesuaian ongkos kirim, sedangkan produk domestik tertekan mahalnya bahan baku impor dan kenaikan biaya energi pabrik.
"Saya nggak tahu pasti penyebabnya apa, kalau yang digembar-gemborkan kan gara-gara perang. Bahan baku impor naik, BBM buat pabrik naik, jadinya dobel. Makanya barang plastik jauh naik harganya. Plastik kresek saja sekarang sudah naik banyak. Terus yang lagi ramai itu dolar, mungkin juga ngaruh kali ya," tutup Anggi.