Lonjakan harga pupuk dan bahan bakar mulai mengganggu program peremajaan kebun kelapa sawit di Malaysia. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak sawit global dalam beberapa tahun mendatang.
Kebutuhan dunia terhadap minyak nabati saat ini tergolong tinggi. Namun, produsen kelapa sawit di Malaysia kini justru harus menghadapi lonjakan biaya operasional yang sangat signifikan, seperti dikutip dari Money.
Harga pupuk dilaporkan melonjak hingga 60 persen. Sementara itu, harga diesel meningkat lebih dari dua kali lipat sejak pecahnya konflik di Iran.
Sebaliknya, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) hanya naik sekitar 10 persen sejak akhir Februari 2026. Selisih kenaikan ini memicu dilema bagi para petani.
Tingginya harga minyak sawit mendorong banyak petani memilih untuk mempertahankan produksi. Mereka cenderung menunda penanaman ulang atau replanting yang membutuhkan modal besar.
Padahal, peremajaan kebun menjadi langkah krusial untuk menjaga produktivitas. Langkah ini juga penting demi keberlanjutan pasokan minyak sawit di pasar dunia.
Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Industri sawit negara ini memegang peran penting karena produknya digunakan secara luas, mulai dari minyak goreng hingga kebutuhan rumah tangga.
Sejumlah petani sawit di Malaysia mengaku lebih memilih menunda replanting karena biaya yang dinilai terlampau tinggi. Peremajaan kebun memang memerlukan dana besar dan waktu yang tidak singkat.
Berbeda dengan tanaman pangan seperti padi yang bisa dipanen dalam hitungan bulan, pohon kelapa sawit membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima tahun untuk mulai berbuah setelah ditanam kembali.
Harga sawit yang tinggi saat ini membuat petani cenderung mempertahankan pohon tua agar tetap menghasilkan. Langkah ini diambil meskipun produktivitas kebun sebenarnya sudah mulai menurun.
Pohon kelapa sawit umumnya mencapai puncak produksi pada usia sekitar 20 tahun. Setelah melewati usia 25 tahun, hasil panen dari pohon tersebut biasanya akan mulai mengalami penurunan.
Ancaman Terhadap Pasokan Global
Pelambatan replanting menjadi perhatian serius karena kebun sawit tua merupakan tantangan utama industri di Malaysia dan Indonesia. Upaya penanaman ulang di kedua negara ini sempat berjalan lambat sebelumnya.
Industri sawit sebenarnya baru mulai meningkatkan penanaman ulang pada 2025 setelah tertunda lama. Namun, kondisi di Malaysia kini dinilai lebih kompleks karena tekanan biaya pupuk yang lebih tinggi dibanding Indonesia.
Indonesia dilaporkan memiliki pasokan pupuk domestik yang lebih memadai, sehingga tekanan terhadap petani relatif lebih kecil. Padahal, replanting sangat penting di tengah stagnasi produksi minyak sawit global.
Pasokan global juga berpotensi semakin ketat karena Indonesia meningkatkan penggunaan minyak sawit untuk program biodiesel. Selain itu, kenaikan harga CPO saat ini dipengaruhi kekhawatiran gangguan energi di Selat Hormuz.
Dampak Besar Bagi Petani Kecil
Tekanan akibat kenaikan biaya produksi ini terutama dirasakan oleh petani kecil. Kelompok ini mulai mengurangi kegiatan replanting karena keterbatasan dukungan pendanaan di lapangan.
Petani kecil menyumbang sekitar 40 persen dari total produksi minyak sawit di Malaysia. Artinya, perlambatan peremajaan di kelompok ini dapat memengaruhi kapasitas produksi nasional dalam jangka panjang.
Di wilayah Sarawak, banyak petani kecil mengelola lahan berdasarkan Native Customary Rights atau hak adat. Skema ini tidak memberikan kepemilikan formal atas lahan sehingga mereka kesulitan mengakses pembiayaan perbankan.
Presiden Sarawak Dayak Oil Palm Planters Association Napoleon R Ningkos mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian petani kesulitan melakukan penanaman ulang.
"Jika mereka tidak melakukan replanting, hasil panen pasti akan terus turun dan ini akan memengaruhi volume produksi beberapa tahun ke depan," kata Napoleon R Ningkos.
Menurut Napoleon R Ningkos, tanpa dukungan yang memadai, petani kecil akan semakin berat melakukan investasi jangka panjang untuk memperbarui kebun mereka.
Biaya pupuk sendiri menjadi komponen utama dalam operasional kebun sawit. Pihak industri menyebut sekitar separuh biaya operasional lapangan berasal dari penggunaan pupuk.
Kondisi Perusahaan Perkebunan Besar
Di tengah tekanan yang menimpa petani kecil, perusahaan perkebunan besar dinilai masih mampu mengelola kenaikan biaya. Mereka telah mengamankan harga dan volume pupuk lebih awal melalui kontrak jangka panjang.
Johor Plantations Group Bhd menyatakan perusahaan mereka relatif terlindungi dari tekanan kenaikan harga pupuk. Hal ini karena mereka telah mengunci harga dan volume kebutuhan pupuk untuk tahun 2026.
Meskipun demikian, pelaku industri menilai target untuk menjaga tingkat replanting nasional tetap menjadi tantangan besar.
Chief Executive Officer Malaysian Palm Oil Association Roslin Azmy Hassan mengatakan mempertahankan tingkat replanting sebesar 3 persen hingga 4 persen pada tahun ini kemungkinan tidak mudah dilakukan.
"Menjaga tingkat replanting yang sehat sebesar 3 persen sampai 4 persen di Malaysia tahun ini mungkin akan menjadi tantangan karena ketidakpastian saat ini," ujar Roslin Azmy Hassan.
Pada 2025, tingkat replanting sawit Malaysia sebenarnya sempat mencapai 3,4 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding rata-rata sekitar 2 persen per tahun dalam lima tahun sebelumnya.
Kenaikan di tahun lalu didorong oleh percepatan replanting oleh perusahaan besar serta dukungan pemerintah kepada petani kecil. Namun, momentum ini kini kembali terhambat oleh tingginya biaya produksi.
Bagi petani kecil dengan modal terbatas, kehilangan pendapatan selama masa tunggu pohon baru tumbuh menjadi risiko yang terlalu besar. Jika peremajaan ini terus tertunda, produktivitas sawit Malaysia diprediksi akan turun bertahap.