Kondisi pasar properti nasional pada kuartal I-2026 menunjukkan dinamika harga yang bervariasi di tengah tekanan faktor musiman dan kondisi eksternal. Berdasarkan data terbaru Pinhome Home Sell Index (PHSI), pertumbuhan harga hunian terjadi secara selektif di sejumlah wilayah strategis meskipun terdapat koreksi di area terdampak cuaca.
Dilansir dari Kompas, wilayah Jakarta Utara mencatat kenaikan harga sebesar 3 persen untuk rumah tipe 121-200 di kawasan Cilincing. Sementara itu, di Jakarta Timur, hunian tipe ≤54 di Cakung mengalami pertumbuhan sebesar 2 persen, di saat beberapa titik di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan terkoreksi akibat dampak banjir.
Kawasan penyangga seperti Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang justru memperlihatkan pertumbuhan positif pada segmen menengah tipe 121-200 dengan kenaikan masing-masing 4 persen. Tren serupa diikuti oleh Kota Tangerang dan Tangerang Selatan yang mencatatkan kenaikan harga hunian sebesar 3 persen.
Segmen hunian tipe kecil dan menengah kini memegang peranan krusial sebagai pilar utama pasar properti nasional. Di saat pasar rumah mewah cenderung lebih berhati-hati, rumah tipe ≤54 tumbuh 0,3 persen dan tipe 121-200 naik 0,5 persen secara kuartalan.
Indeks Harga Jual Rumah Nasional secara keseluruhan terpantau stabil dengan penurunan tipis sekitar -0,1 persen. Namun, pertumbuhan tahunan tetap terlihat pada hunian tipe ≤54 yang meningkat 1 persen serta tipe 55-120 yang naik sebesar 0,6 persen.
CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menjelaskan bahwa daya beli konsumen pada segmen ini tetap terjaga karena merupakan kebutuhan primer. Faktor keterjangkauan harga menjadi alasan utama mengapa permintaan pada tipe kecil dan menengah tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Segmen rumah kecil dan menengah menjadi penopang pertumbuhan pasar, didorong oleh keterjangkauan dan kebutuhan hunian dasar yang menjaga permintaan tetap stabil," ujar Dara.
Sebaliknya, sektor hunian premium atau rumah besar dengan tipe ≥201 mengalami kontraksi harga sebesar -0,5 persen secara kuartalan dan -0,7 persen secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan sikap waspada investor di pasar kelas atas terhadap gejolak ekonomi global dan kendala infrastruktur akibat cuaca.
Geliat Pertumbuhan Pasar Sewa Hunian
Selain sektor penjualan, pasar sewa rumah juga menunjukkan ketahanan pada awal tahun 2026. Data Pinhome Home Rental Index (PHRI) mengungkapkan kenaikan harga sewa untuk tipe 55-120 sebesar 0,8 persen, sementara tipe ≤54 merangkak naik sebesar 0,7 persen.
Peningkatan signifikan terlihat pada kawasan pusat bisnis di Jakarta Pusat, di mana harga sewa tipe 55-120 melonjak hingga 5 persen. Pertumbuhan ini dipicu oleh kembalinya aktivitas perkantoran secara penuh dan kebutuhan hunian di sekitar institusi pendidikan.
Di wilayah Bodetabek, penetapan BSD sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi katalis utama kenaikan harga sewa di Tangerang Raya. Kabupaten Bogor juga tidak ketinggalan dengan mencatatkan pertumbuhan nilai sewa sebesar 3 persen untuk rumah tipe 55-120.
"Pasar sewa di beberapa kota di Indonesia juga masih memperlihatkan ketahanan dengan penurunan terbatas," kata Dara.