CEO Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa harga saham perbankan milik Badan Usaha Milik Negara di Bursa Efek Indonesia saat ini masih tergolong murah, Selasa (19/5/2026).
Kondisi harga saham yang dinilai berada di bawah nilai intrinsik atau undervalue tersebut didasarkan pada rasio ekuitas dengan harga pasar saham yang masih rendah, sebagaimana dilansir dari Suara.
Rasio price to book value dari emiten perbankan pelat merah tersebut dilaporkan tengah berada di bawah level normal pasar saat ini.
"Kalau kita lihat perbankan dari price to book-nya is below 1 persen Yang dimana kalau keadaan normal itu above 2, above 3 persen," ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selas (19/5/2026).
Rendahnya rasio tersebut dinilai membuat saham sektor ini memiliki potensi besar untuk segera dikoleksi oleh para investor.
"Jadi definitely there is a potential upside Jadi. itulah edukasi yang kita harus berikan, harus sampaikan Sehingga pemahaman secara bursa, pasar modal, kapital market ini menjadi baik," ucap Rosan Roeslani.
Sejumlah emiten perbankan pelat merah yang tercatat di bursa meliputi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Selain itu, terdapat pula PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS).
Potensi keuntungan yang ditawarkan oleh emiten BUMN juga diklaim sangat tinggi karena memiliki imbal hasil dividen yang menjanjikan bagi pasar modal.
"Kalau kita lihat BUMN yang ada di bursa, contohnya Himbara ataupun mineral, itu yield-nya juga sangat baik di atas 10—11 pers persen Menurut kami itu sangat-sangat baik,‒ beber Rosan Roeslani.