Harga TBS Sawit di Sejumlah Wilayah Sumatra Mengalami Penurunan

Harga TBS Sawit di Sejumlah Wilayah Sumatra Mengalami Penurunan

Dinas Perkebunan di sejumlah provinsi wilayah Sumatra menetapkan penurunan harga tandan buah segar atau TBS kelapa sawit mitra plasma pada periode Mei 2026 akibat merosotnya harga crude palm oil global.

Kebijakan penetapan harga baru ini mulai diberlakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Riau untuk periode 20 hingga 26 Mei 2026 dengan mengacu pada regulasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024.

"Dengan harga cangkang sebesar Rp 19,15/Kg. Pada periode ini indeks K yang dipakai adalah 93.30%, harga penjualan CPO minggu ini turun sebesar Rp 343,18 dan kernel minggu ini turun sebesar Rp 308,72 dari minggu lalu," kata Supriadi, Kepala Dinas Perkebunan Riau.

Penurunan harga komoditas ini dipengaruhi oleh pergerakan nilai jual CPO serta kernel di pasar pelabuhan ekspor dan pusat pelelangan nasional.

"Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa harga TBS yang ditetapkan oleh tim untuk mitra plasma mengalami penurunan. Penurunan harga minggu ini lebih disebabkan karena faktor turunnya harga CPO dan kernel," papar Supriadi.

Pemerintah daerah bersama instansi hukum terkait terus memantau skema pembelian kelapa sawit agar tetap memberikan kepastian pendapatan bagi kelompok tani swadaya maupun kemitraan.

"Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh stakeholder yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini pada akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," ujarnya Supriadi.

Penurunan nilai jual TBS kelapa sawit ini juga terjadi pada sektor swadaya dan kemitraan di provinsi tetangga seperti Sumatra Barat dan Sumatra Selatan.

"Kenaikan harga pekan ini lebih disebabkan oleh naiknya harga kernel, meski harga CPO (crude palm oil) mengalami penurunan," kata Vera Virgianti, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau.

Pihak asosiasi dan dinas perkebunan daerah mengonfirmasi tata kelola perdagangan kelapa sawit terus diperbaiki demi menjaga keseimbangan pasar.

"Membaiknya tata kelola penetapan harga ini merupakan upaya yang serius dari seluruh pemangku kepentingan yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Riau dan Kejaksaan Tinggi Riau. Komitmen bersama ini pada akhirnya tentu akan berimbas pada peningkatan pendapatan petani yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat," sebut Vera Virgianti.

Di Sumatra Selatan, kelesuan harga kelapa sawit dipicu oleh melambatnya penyerapan pasar internasional dan penguatan pasokan tangki timbun domestik.

"Secara sederhana memang dolar mempengaruhi harga TBS, tapi itu bukan penentu satu-satunya. Harga acuan CPO di pasar global saat ini, seperti Bursa Malaysia dan Rotterdam sedang turun," kata M Ichwansyah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Sumsel.

Otoritas perkebunan menilai peralihan konsumsi minyak nabati dunia ke komoditas alternatif turut menekan laju ekspor sawit nasional.

"Jadi meskipun dolar menguat, dampaknya tidak terlalu terasa terhadap harga TBS karena harga CPO dunia justru turun," ujar M Ichwansyah.

Meski terdapat fluktuasi harga global, pendapatan riil sektor pekebun diklaim masih stabil berkat penyesuaian porsi indeks K pendapatan.

"Artinya, meskipun harga TBS sedikit turun tetapi bagian harga yang diterima petani cenderung meningkat," tutup M Ichwansyah.

Di Sumatra Barat, harga TBS umur 10 sampai 20 tahun disepakati turun menjadi Rp3.998,76 per kilogram, sementara wilayah Sumatra Utara mencatat harga tertinggi di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar Rp3.410 per kilogram.

Artikel terkait

Rekomendasi