Himbara Dukung Bank Indonesia Kembangkan Transaksi Mata Uang Lokal

Himbara Dukung Bank Indonesia Kembangkan Transaksi Mata Uang Lokal

Bank milik negara yang tergabung dalam Himbara akan terlibat aktif dalam pengembangan kerja sama mata uang lokal atau local currency trade (LCT). Program yang diinisiasi oleh Bank Indonesia (BI) ini bertujuan untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral.

Perwakilan Himbara sekaligus Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa volume transaksi valuta asing di Himbara saat ini tergolong besar, termasuk transaksi dengan China. Fakta tersebut, seperti dilansir dari Keuangan, menjadi dasar keterlibatan bank-bank pelat merah.

Himbara kini bersiap mengembangkan LCT khusus bersama tiga otoritas moneter utama. Lembaga tersebut meliputi Bank Indonesia, Bank Sentral China, dan Bank Sentral Hong Kong.

"Jadi CNY Yuan versus IDR Rupiah," ujar Putrama di sela-sela Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi XI DPR RI, Selasa (2/6/2026).

Meskipun menyatakan dukungannya, Putrama mengaku bahwa Himbara mengajukan sebuah syarat khusus kepada Bank Indonesia. Syarat penunjang tersebut secara spesifik disampaikan langsung kepada Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono.

Kebutuhan akan likuiditas menjadi alasan utama di balik pengajuan syarat dari perbankan nasional tersebut.

"Ada sebuah syarat yang saya sampaikan kepada Pak Thomas Djiwandono, yaitu bahwa bank dalam negeri nanti yang akan terlibat dalam LCT ini membutuhkan 100% dukungan likuiditas CNY dari BI," ujarnya.

Putrama menambahkan bahwa permintaan ini diajukan karena valas CNY tidak tersedia secara bebas di pasar terbuka. Keterbatasan ketersediaan valuta asing tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Himbara dalam mengimplementasikan sistem LCT.

"Karena sekali lagi membutuhkan dukungan likuiditas yang cukup besar," imbuhnya.

Saat ini, Indonesia dan China telah resmi menyepakati penggunaan mekanisme LCT untuk keperluan perdagangan serta investasi bilateral antara kedua negara.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya memaparkan bahwa nilai transaksi LCT antara Indonesia dan China terus menunjukkan tren peningkatan yang positif.

Pada tahun lalu, nilai transaksi bilateral tersebut telah menembus angka lebih dari US$ 25 miliar per tahun. Sementara itu, catatan untuk tahun ini menunjukkan transaksi bulanan sudah menyentuh kisaran US$ 3,7 miliar.

Bank Indonesia juga telah menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah bank serta bank sentral China. Langkah ini dilakukan agar transaksi menggunakan mata uang yuan dapat langsung dieksekusi di dalam negeri.

Perry Warjiyo menyatakan bahwa masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia sekarang sudah dapat melakukan berbagai jenis transaksi yuan, mulai dari instrumen spot, swap, hingga forward.

Artikel terkait

Rekomendasi