Hubungan Energi China dan Rusia Kian Erat Melalui Perdagangan Migas

Hubungan Energi China dan Rusia Kian Erat Melalui Perdagangan Migas

Kemitraan strategis antara China dan Rusia dalam sektor perdagangan minyak dan gas bumi kian intensif. Hubungan erat di sektor energi ini mulai mengalami peningkatan signifikan sejak pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina pada tahun 2022.

Dilansir dari Detik Finance, penguatan kerja sama energi ini diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan bilateral antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Raksasa energi asal Rusia, Gazprom, tercatat telah menyalurkan gas alam ke Negeri Tirai Bambu melalui fasilitas pipa Power of Siberia sepanjang 3.000 kilometer. Proyek infrastruktur senilai US$ 400 miliar tersebut sudah beroperasi aktif sejak akhir tahun 2019.

Pada tahun 2025, volume ekspor gas melalui jalur tersebut melonjak sekitar 25 persen hingga menyentuh angka 38,8 miliar meter kubik (bcm). Angka ini melampaui target kapasitas tahunan pipa yang awalnya direncanakan sebesar 38 bcm.

Selain itu, kesepakatan yang tercapai pada Februari 2022 menetapkan komitmen China untuk membeli gas hingga 10 bcm per tahun pada 2027 melalui pipa Pulau Sakhalin di wilayah timur jauh Rusia. Kedua belah pihak kemudian sepakat menaikkan volume tersebut menjadi 12 bcm.

Meskipun demikian, total ekspor gas Moskow ke Beijing saat ini masih mencakup sebagian kecil jika dibandingkan dengan rekor pasokan ke Eropa yang sempat menembus 177 bcm per tahun pada periode 2018-2019.

Pangsa pasar gas Rusia di Uni Eropa mengalami penyusutan imbas perang Ukraina, terutama untuk pengiriman lewat pipa. Rusia kini menempati posisi kedua sebagai pemasok gas alam cair (LNG) terbesar bagi Uni Eropa dengan pangsa 16 persen, di bawah Amerika Serikat.

Untuk mengantisipasi pasar Eropa yang hilang, Rusia kini beralih ke Asia. Saat ini, Moskow dan Beijing tengah menegosiasikan proyek pipa Power of Siberia 2 yang direncanakan mampu mengalirkan gas sebesar 50 bcm per tahun melalui wilayah Mongolia.

Gazprom sendiri telah memulai studi kelayakan proyek tersebut sejak tahun 2020. Langkah ini dirasa semakin mendesak bagi Kremlin demi menempatkan China sebagai konsumen utama pengganti pasar Eropa.

Berdasarkan data otoritas bea cukai China, pengiriman LNG dari Rusia ke negara tersebut tumbuh 18,2 persen tahun lalu menjadi 9,79 juta metrik ton. Posisi ini menempatkan Rusia sebagai pemasok LNG terbesar ketiga bagi China setelah Australia dan Qatar.

Selain sektor gas, China memegang peran krusial bagi Rusia sebagai mitra utama penerima pengiriman minyak bumi, baik melalui jalur laut maupun pipa. Pasokan komoditas ini tetap terjaga tinggi di tengah sanksi ekonomi dari negara-negara Barat.

Volume impor minyak mentah China dari Rusia mencapai 2,01 juta barel per hari (bpd) sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut merepresentasikan sekitar 20 persen dari keseluruhan total impor minyak yang dilakukan oleh China.

Ajudan kebijakan luar negeri Putin, Yury Ushakov, mengungkapkan bahwa ekspor minyak Rusia ke China mengalami pertumbuhan sebesar 35 persen pada kuartal pertama tahun 2026, dengan total volume mencapai 31 million ton.

Pihak China membeli minyak mentah jenis Siberia Timur-Samudra Pasifik yang dialirkan lewat cabang Skovorodino-Mohe dari pipa ESPO sepanjang 4.070 kilometer. Jalur ini menghubungkan langsung ladang minyak Rusia ke berbagai fasilitas kilang di China.

Perusahaan operator pipa Rusia, Transneft, menyatakan sedang melakukan perluasan jaringan untuk mendongkrak kapasitas ekspor melalui pelabuhan Kozmino. Proyek pengembangan infrastruktur ini ditargetkan selesai sepenuhnya pada tahun 2029.

Pasokan minyak campuran dari jalur tersebut dilaporkan tetap tinggi sejak Juli 2025, ketika kapasitas ekspor ditingkatkan menjadi 1 juta barel per hari. Transneft sejauh ini terus menjaga volume pengiriman lewat Kozmino berada pada level tersebut.

Di samping itu, Rusia juga telah menandatangani kesepakatan untuk menambah volume ekspor minyak ke China yang disalurkan melewati wilayah Kazakhstan melalui pipa Atasu-Alashankou sebesar 2,5 juta ton per tahun menjadi 12,5 juta ton.

Artikel terkait

Rekomendasi