Indonesia Battery Corporation (IBC) mengharapkan intervensi pemerintah berupa pemberian insentif khusus untuk pasar baterai dalam negeri guna mendukung program hilirisasi nikel nasional. Harapan tersebut disampaikan menjelang pengoperasian pabrik baterai Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat yang dijadwalkan pada Juli mendatang.
Dilansir dari Suara, Presiden Direktur IBC Aditya Farhan Arif menyampaikan usulan tersebut di Jakarta pada Senin (18/5/2026). Langkah intervensi ini dinilai penting karena pasar domestik saat ini masih didominasi oleh baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang menggunakan bahan baku besi dan fosfat impor.
Berdasarkan data internal perusahaan, dari total 103.000 unit mobil listrik yang terjual di Indonesia sepanjang tahun 2025, hanya sekitar 4 persen yang memanfaatkan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) berbasis nikel. Selebihnya, mayoritas kendaraan listrik di pasar menggunakan baterai jenis LFP.
Skema insentif yang diajukan oleh perusahaan berfokus langsung pada produk baterai berdasarkan tingkat komponen lokal, bukan pada produk mobil listrik secara utuh. Dorongan ini diharapkan mampu meningkatkan penyerapan material lokal seperti nikel, alumunium, tembaga, dan grafit yang digunakan dalam struktur baterai NMC.
"Hilirisasi nikel adalah mandat dari pemerintah. Makanya seyogyanya pemerintah juga membantu menciptakan market," terang Adit, Presiden Direktur IBC.
Pihak manajemen menilai pemberian insentif yang dihitung dari Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada komponen di dalam baterai akan jauh lebih tepat sasaran sekaligus berdampak langsung pada kelancaran program hilirisasi.
"Menurut saya, kebijakan itu mungkin tidak harus buat mobilnya, tapi bisa juga baterainya. Dan tidak harus baterai gelondongannya yang dihitung, tapi dari komponen di dalamnya," jelas Adit.
Meskipun mendorong penggunaan baterai berbasis nikel, pabrik CATIB di Karawang dipastikan tetap memproduksi baterai LFP untuk menyesuaikan dinamika permintaan pasar. Fasilitas produksi yang dibangun oleh konsorsium MIND ID, IBC, dan CBL asal China ini mengalokasikan kapasitas produksi sebesar 80 persen untuk baterai LFP dan 20 persen untuk baterai NMC.
Progres pembangunan fisik pabrik baterai CATIB saat ini telah mencapai 90 persen. Selain menyuplai kebutuhan pasar domestik dan industri penyimpanan energi (ESS), komoditas baterai yang dihasilkan dari pabrik ini juga ditargetkan untuk diekspor menuju pasar Eropa dan Jepang setelah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juli mendatang.