Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan pada sesi awal perdagangan. Seperti dilaporkan oleh Money, pergerakan indeks saham domestik langsung terlempar ke zona merah akibat sentimen negatif global.
Kondisi pasar saham yang memburuk dipicu oleh kecemasan para investor terhadap laju inflasi dunia. Selain itu, guncangan di pasar keuangan global turut memperberat langkah indeks dalam memulai pekan ini.
Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan preopening, IHSG langsung terpangkas 94,344 poin. Penurunan sebesar 1,40 persen tersebut menyeret indeks ke posisi 6.628,976.
Tekanan jual semakin intensif ketika memasuki sesi pembukaan perdagangan resmi. Indeks saham merosot hingga 188,05 poin atau setara 2,80 persen, sehingga mendarat di level 6.535,27.
Pada awal transaksi, IHSG sempat dibuka pada posisi 6.628,98 dan menyentuh titik tertinggi di level 6.631,28. Namun, hantaman pasar menekan indeks hingga ke level terendah pada posisi 6.532,83.
Aktivitas transaksi di lantai bursa terhitung padat dengan volume perdagangan mencapai 6,284 miliar saham. Nilai transaksi yang dibukukan sebesar Rp 3,896 triliun melalui frekuensi sebanyak 560.900 kali.
Kondisi pasar didominasi oleh koreksi massal dengan 564 saham bergerak melemah. Sementara itu, hanya ada 111 saham yang berhasil menguat dan 284 saham lainnya bertahan di posisi stagnan.
Kemunduran ini juga diikuti oleh deretan indeks saham sektoral utama lainnya. Indeks LQ45 mengalami penurunan 17,29 poin atau 2,63 persen dan parkir di level 640,59.
Pelemahan tajam menimpa Jakarta Islamic Index (JII) yang merosot 14,98 poin atau 3,42 persen ke posisi 422,91. Indeks KOMPAS100 juga terkoreksi 28,84 poin atau 3,23 persen menuju level 864,41.
Kondisi serupa melanda indeks ISSI yang melemah 6,71 poin atau 2,76 persen ke posisi 236,29. Indeks IDX30 ikut terpangkas 8,03 poin atau 2,16 persen menjadi 363,25, sedangkan JII70 turun 5,02 poin atau 2,94 persen ke level 165,64.
Situasi pasar modal domestik diperkirakan masih harus menghadapi masa-masa sulit. Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan bahwa pergerakan indeks saham awal pekan ini sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal dan internal.
Faktor geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu fokus perhatian utama pelaku pasar. Ketegangan di wilayah tersebut memicu ketidakpastian yang tinggi pada sistem keuangan global.
Selain isu geopolitik, pasar finansial dalam negeri sedang menghadapi tekanan jual yang masif. Kondisi ini dipicu oleh potensi keluarnya modal asing atau capital outflow akibat agenda rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang diumumkan pada Rabu (13/5/2026).
Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut memperparah kecemasan di pasar modal. Pelemahan mata uang Garuda dinilai berisiko mengganggu stabilitas keuangan domestik serta memicu hengkangnya dana asing.
Melihat kondisi tersebut, Herditya memprediksi rentang pergerakan indeks akan berada pada area batas bawah dan atas yang cukup lebar.
“Untuk Senin kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support 6.682 and resist 6.789. Untuk sentimen sendiri kami perkirakan investor masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan jual dan outflow dari IHSG terkait rebalancing MSCI, serta nilai tukar rupiah terhadap dollar AS,” ujar Herditya.
Prospek Pembalikan Arah Secara Teknikal
Pandangan lain datang dari pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana. Ia melihat pergerakan indeks saham cenderung bergerak fluktuatif dengan pola sideways bearish sebelum menghadapi libur panjang pada Mei 2026.
Pasar dinilai sedang beradaptasi setelah mengalami tekanan berat, khususnya pada saham-saham dengan kapitalisasi besar akibat penyesuaian bobot indeks MSCI Mei 2026.
Secara analisis teknikal, level psikologis 6.900 menjadi titik krusial yang menentukan arah pergerakan ke depan. Jika aksi jual oleh investor asing terus berlanjut, indeks berisiko jatuh lebih dalam ke kisaran 6.600 hingga 6.700.
Kendati demikian, penurunan yang sudah terlampau dalam ini dinilai mulai membuka peluang terjadinya technical rebound. Momentum pembalikan arah ini berpotensi terjadi jika gejolak global mereda dan kurs rupiah mulai merangkak stabil.
Hendra menjabarkan bahwa kombinasi arus modal keluar, depresiasi rupiah, potensi perlambatan ekonomi dunia, dan ketidakpastian geopolitik global menjadi penentu utama pergerakan saat ini. Pasar juga terus mengamati kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang masih tertahan oleh tingkat inflasi.