Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Dikutip dari Suara, indeks saham domestik ini melemah sebesar 1,85 persen dan mendarat di level 6.599.
Kombinasi sentimen negatif global serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utama kejatuhan ini. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya katalis positif yang mampu menopang pasar.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, pergerakan mayoritas indeks di bursa Asia terpantau melemah pada 18 Mei 2026. Investor diliputi kekhawatiran akibat memanasnya kembali hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan geopolitik ini memicu kecenderungan pelaku pasar untuk mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang. Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia memicu kecemasan baru terkait potensi lonjakan inflasi global.
Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah mencatatkan rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah setelah merosot 0,4 persen ke posisi Rp 17.668 per dolar AS. Tekanan mata uang ini langsung memicu spekulasi pasar modal.
Phintraco Sekuritas menilai keterpurukan rupiah membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Langkah moneter tersebut diprediksi akan dibahas dalam pertemuan yang digelar pada Selasa-Rabu pekan ini, 19-20 Mei 2026.
Potensi kenaikan suku bunga acuan ini direspons negatif oleh pasar karena berisiko meningkatkan biaya dana. Akibatnya, minat investor domestik terhadap pasar saham mengalami penurunan signifikan seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter.
Aktivitas perdagangan saham mencatatkan volume yang cukup besar di tengah tekanan pasar. Sebanyak 29,89 juta saham ditransaksikan dengan total nilai transaksi mencapai Rp 20,70 triliun, serta frekuensi sebanyak 2,54 juta kali.
Pergerakan harga saham didominasi oleh tren penurunan yang masif. Tercatat hanya 129 saham yang bergerak naik, sementara 647 saham mengalami kejatuhan, dan 183 saham lainnya tidak bergerak dari posisi semula.
Sejumlah saham berhasil mencatatkan kenaikan terbesar (top gainers) pada perdagangan kali ini, di antaranya adalah DYAN, BLUE, BPTR, SMKL, dan GSMF. Sebaliknya, saham yang mengalami pelemahan terdalam (top losers) dipimpin oleh DSSA, TPIA, APIN, KONI, serta WBSA.