IHSG 18 Mei 2026 Diprediksi Melemah Akibat Sentimen Suku Bunga dan Geopolitik

IHSG 18 Mei 2026 Diprediksi Melemah Akibat Sentimen Suku Bunga dan Geopolitik

Laju Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diproyeksikan bakal bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (18/5/2026). Pergerakan pasar modal ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dikutip dari Suara, para pelaku pasar perlu mencermati kondisi pasar yang dinamis ini. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memproyeksikan pergerakan indeks akan berada dalam rentang level support 6.645 dan resistance 6.840.

Analisis teknikal melalui indikator MACD menunjukkan adanya pelemahan tren pada bursa efek. Di saat yang sama, indikator RSI mulai mendekati area jenuh jual dengan tekanan volume transaksi yang tercatat mengalami penurunan.

"Di sisi lain, indikator RSI mendekati area oversold dan tekanan volume transaksi menurun," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Senin (18/5/2026).

Oktavianus Audi menjelaskan bahwa pergerakan pasar saat ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen utama dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu faktor domestik terbesar adalah keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait BI Rate.

Suku bunga acuan tersebut diperkirakan tetap bertahan di level 4,75 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp17.590 per dolar AS. Menghadapi kondisi ini, investor cenderung merespons secara moderat seiring tekanan indeks sepekan terakhir.

"Kami berpandangan pasar akan dipengaruhi sentimen keputusan RDG untuk BI rate yang diperkirakan tetap di level 4,75 persen, hal ini seiring dengan menjaga stabilitas nilai rupiah yang sudah bergerak dilevel Rp17.590 per dolar AS," jelasnya.

Selain faktor domestik, ketegangan yang terus meningkat di Selat Hormuz turut memberikan sentimen negatif bagi pasar modal. Dampak dari lemahnya negosiasi damai antara AS dan Iran ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga 3,35 persen ke level 109 dolar AS per barel.

Ketidakpastian situasi global ini membuat para investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan aset mereka. Terkait strategi investasi, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan speculative buy untuk saham RAJA dengan target resistance 4.700, serta buy on break untuk saham RMKE jika menembus level 3.380.

Pandangan serupa datang dari Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, yang menilai indeks masih rawan melanjutkan koreksi pada perdagangan Senin ini. Dirinya menetapkan level perdagangan berada pada rentang support 6.682 dan resistance 6.789.

Menurut Herditya, ada tiga faktor utama yang memengaruhi pasar saat ini, yaitu perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan jual akibat rebalancing indeks MSCI, serta penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. MNC Sekuritas menyarankan pelaku pasar mencermati saham DEWA (540-595), INDY (3.160-3.440), dan WIFI (2.460-2.710).

Artikel terkait

Rekomendasi